Tim sepakbola yang baik tidak berhenti menyerang walau sudah unggul untuk sementara waktu. Tim sepakbola tidak diciptakan hanya untuk bertahan, tentu harus baik dan terus menyerang.
Demikianlah pula di dalam berbisnis, tidak ada kata stop untuk melakukan sesuatu. Anda harus terus menginovasi fisik dan non fisik. Membuatnya lebih menyenangkan. Anda harus terus berpromosi, selama Anda berbisnis, Anda harus terus berpromosi. Anda harus terus meningkatkan marketing mix perusahaan Anda (harga, distribusi/letak, promosi, produk, sdm, dll).
Teruslah menyerang dan mengcreate sesuatu yang luar biasa.
Senin, 04 Juli 2011
Jangan berhenti untuk menyerang
Manajemen waktu CEO
Melakukan sesuatu yang tepat dan di waktu yang tepat adalah seni yang harus dikuasai oleh seorang CEO. Apa yang dilakukan minggu demikianlah minggu akan menghasilkan kinerja bisnis dalam sebulan. Apa yang dilakukan bulan demi bulan akan membuahkan kinerja bisnis dalam setahun.
Minggu pertama adalah waktu bagi CEO untuk menjelaskan strategi yang perlu dilakukan pada bulan tersebut. Minggu kedua dan ketiga adalah waktu bagi CEO untuk melihat aplikasi dari strategi yang sudah ditetapkan. Minggu terakhir adalah waktu bagi CEO untuk mendorong/push pencapaian ke titik yang optimal.
Ketiga tindakan tersebut harus dilakukan terus menerus dan sistematis jika ingin memperoleh kinerja bisnis yang maksimal.
Isilah waktu Anda dengan ketiga langkah di atas.
Minggu pertama adalah waktu bagi CEO untuk menjelaskan strategi yang perlu dilakukan pada bulan tersebut. Minggu kedua dan ketiga adalah waktu bagi CEO untuk melihat aplikasi dari strategi yang sudah ditetapkan. Minggu terakhir adalah waktu bagi CEO untuk mendorong/push pencapaian ke titik yang optimal.
Ketiga tindakan tersebut harus dilakukan terus menerus dan sistematis jika ingin memperoleh kinerja bisnis yang maksimal.
Isilah waktu Anda dengan ketiga langkah di atas.
Minggu, 03 Juli 2011
Belajar dari Tony Blair
Tony Blair membaca Al Quran setiap hari. Hal ini dia lakukan untuk mendukung tugas perdamaian di Timur Tengah dari beberapa pihak. Pemimpin yang baik adalah yang inklusif. Pemimpin perlu paham kondisi dan pola pikir dari semua pihak, termasuk oposisi. Memahami dan mengukur kekuatan lawan adalah tindakan terus menerus yang harus dilakukan pemimpin bisnis. Gerak gerik lawan harus kita amati secara aktif. Hal tersebut sangat mendukung keberhasilan keputusan dan strategi yang Anda buat.
Amatilah dan ukurlah kekuatan competitor Anda.
Amatilah dan ukurlah kekuatan competitor Anda.
The next customer
Dulu perusahaan yang berhasil adalah yang memiliki produk dengan harga murah dan modal besar. Tetapi kini perusahaan yang berhasil adalah yang memahami customer need. Anda tidak boleh hanya menyiapkan produk yang ingin dijual, tapi juga mematangkan bagaimana cara menjualnya. Oleh karena itu, Anda perlu paham kebutuhan customer saat ini dan yang akan datang.
The next customer membutuhkan kenyamanan, hiburan, kecepatan, kepeduliaan dan sesuatu yang baru. Cara Anda menjual adalah penentu (bukan lagi produk) keberhasilan bisnis Anda. Sesuaikanlah cara Anda menjual dengan the next customer need.
Pesawat air asia dan hotelnya berhasil karena cara menjualnya memenuhi the next customer need.
Sesuaikanlah cara menjual Anda dengan keinginan pelanggan masa kini dan yang akan datang.
The next customer membutuhkan kenyamanan, hiburan, kecepatan, kepeduliaan dan sesuatu yang baru. Cara Anda menjual adalah penentu (bukan lagi produk) keberhasilan bisnis Anda. Sesuaikanlah cara Anda menjual dengan the next customer need.
Pesawat air asia dan hotelnya berhasil karena cara menjualnya memenuhi the next customer need.
Sesuaikanlah cara menjual Anda dengan keinginan pelanggan masa kini dan yang akan datang.
Extraordinary product and service
Philips beralih dari menjual lampu ke menjual cahaya. Lighting can change much more than just lighting, demikianlah kampanye yang mereka buat menghadapi competitor yang menjual lampu. Philips menawarkan lampu yang memberikan cahaya berbeda dibandingkan dengan lampu konvensional.
Sebenarnya membuat produk dan pelayanan yang unik dan berbeda adalah keharusan, bukan setelah terdesak baru kita melakukannya. Entrepreneur adalah "pencipta" produk dan layanan yang luar biasa.
Blackberry adalah contoh produk selular yang tidak saja menjual alat komunikasi, tetapi komunitas dan internet. Iphone juga tidak saja menjual alat komunikasi tetapi juga hiburan.
Ciptakanlah produk dan pelayanan yang extraordinary.
Sebenarnya membuat produk dan pelayanan yang unik dan berbeda adalah keharusan, bukan setelah terdesak baru kita melakukannya. Entrepreneur adalah "pencipta" produk dan layanan yang luar biasa.
Blackberry adalah contoh produk selular yang tidak saja menjual alat komunikasi, tetapi komunitas dan internet. Iphone juga tidak saja menjual alat komunikasi tetapi juga hiburan.
Ciptakanlah produk dan pelayanan yang extraordinary.
The power of social media
Selama masa tenang pemilu di Thailand, pemerintah Thailand melarang berkampanye lewat sosial media. 100 polisi dikerahkan untuk mengawasi pelanggaran ini. Warga dilarang mengomentari calon dan partai yang ikut pemilu 3 Juli 2011 melalui situs media sosial, seperti Twitter dan Facebook.
Aturan baru, yang dibuat, karena kekuatan media sosial sudah begitu hebatnya. Tengok saja siapa dibalik penggerak reformasi di Timur Tengah, tak lain kekuatan media sosial.
Jika kita lihat trend peningkatan kepemilikan notebook di Indonesia, juga kemudahan orang mengakses internet melalui telpon seluler, maka perusahaan harus bergegas memanfaatkan media ini sebagai sarana komunikasi produk dan jasa yang dijual.
Sebagai contoh dunia perhotelan sangat merasakannya, kebanyakan reservasi dilakukan melalui internet, dan konsumen mengecek terlebih dulu barang yang akan dibelinya melalui internet.
Bangunlah komunikasi produk dan jasa bisnis Anda melaui media sosial dan internet.
Aturan baru, yang dibuat, karena kekuatan media sosial sudah begitu hebatnya. Tengok saja siapa dibalik penggerak reformasi di Timur Tengah, tak lain kekuatan media sosial.
Jika kita lihat trend peningkatan kepemilikan notebook di Indonesia, juga kemudahan orang mengakses internet melalui telpon seluler, maka perusahaan harus bergegas memanfaatkan media ini sebagai sarana komunikasi produk dan jasa yang dijual.
Sebagai contoh dunia perhotelan sangat merasakannya, kebanyakan reservasi dilakukan melalui internet, dan konsumen mengecek terlebih dulu barang yang akan dibelinya melalui internet.
Bangunlah komunikasi produk dan jasa bisnis Anda melaui media sosial dan internet.
Team Organisasi
Ada 5 tipe anggota tim yang harus ada di dalam sebuah bisnis:
1. Leader
Orang yang memberikan arahan perusahaan ke depan.
2. Manager
Orang yang mengelola perusahaan dalam operasional sehari-hari.
3. Eksekutor
Orang-orang yang melaksanakan semua rencana dan strategi perusahaan.
4. Assesor
Orang yang memonitor dan menilai setiap progress pencapaian individu dan perusahaan.
5. Auditor
Orang yang memeriksa apakah semua sudah berjalan sesuai dengan ketentuan seharusmya.
Bila perusahaan yang Anda pimpin belum memiliki 5 tipe tersebut di atas, segeralah lengkapi. Pastikan akan ada perubahan bagi bisnis Anda.
1. Leader
Orang yang memberikan arahan perusahaan ke depan.
2. Manager
Orang yang mengelola perusahaan dalam operasional sehari-hari.
3. Eksekutor
Orang-orang yang melaksanakan semua rencana dan strategi perusahaan.
4. Assesor
Orang yang memonitor dan menilai setiap progress pencapaian individu dan perusahaan.
5. Auditor
Orang yang memeriksa apakah semua sudah berjalan sesuai dengan ketentuan seharusmya.
Bila perusahaan yang Anda pimpin belum memiliki 5 tipe tersebut di atas, segeralah lengkapi. Pastikan akan ada perubahan bagi bisnis Anda.
Selasa, 31 Maret 2009
KEGAGALAN PEMIMPIN PERUSAHAAN
Kegagalan perusahaan besar di Amerika, seperti General Motor dan AIG, bukanlah disebabkan karena ketimban sial krisis keuangan global yang sedang menimpa Amerika dan dunia. Jika benar mereka ketimban sial, seharusnya bukan mereka saja yang mengalaminya. Mengapa hanya beberapa perusahaan saja?
Seperti busuknya ikan dimulai dari kepala ikan, demikian juga dengan kebangkrutan atau pertumbuhan perusahaan yang menurun disebabkan oleh pemimpinnya. Saya percaya pemimpin perusahan besar ini adalah alumni-alumni universitas terkenal di dunia.
Lalu bagaimana mungkin para pemimpin yang hebat-hebat ini, seperti Wagoner, CEO GM, yang dipaksa mundur oleh Obama, adalah pegawai yang sudah berkarir 20 tahun di GM.
Berikut petikan berita dari Republika Online:
WASHINGTON -- CEO General Motors Rick Wagoner mundur setelah menghadapi tekanan dari pemerintahan Obama yang hari Minggu ini (Senin WIB) bersiap mengumumkan dana talangan kedua untuk perusahaan ini dan pesaingnya yang lebih kecil Chrysler LLC.
Wagoner, seorang eksekutif karir GM dan menjabat CEO sejak tahun 2000, mengundurkan diri setelah produsen otomotif itu berjuang menghadapi turunnya penjualan akibat resesi yang memaksa GM dan para pemasok serta dealer diambang bangkrut.
"Bagi mereka mengganti pimpinan di tengah jalan adalah hal yang tidak pernah dilakukan GM, namun kini (Presiden Barack) Obama atau (Menteri Keuangan Timothy) Geithner bisa berkata, kami meminta mereka berkorban," kata Aaron Bragman, analis pada IHS Global Insight.
Ekonom dari Universitas Maryland, Peter Morici, pengkritik utama Wagoner yang pernah meminta Wagoner mundur namun dia kini malah percaya bahwa Wagoner sedang memulai menata perusahaan. Morici kini menyebut pemerintah menghadapi "masalah humas" berkaitan dengan paket dana talangan untuk perusahaan-perusahaan itu.
"Mereka hanya menalangi pihak yang pamer dan merengek meminta dana. Rakyat semakin letih karenanya dan alih-alih melemparkan seorang bankir ke kumpulan serigala pemerintah malah membesarkan Wagoner menjadi serigala," kata Morici.
GM sendiri tidak mengeluarkan pernyataan apapun berkaitan pengunduran diri Wagoner, namun seorang pejabat Gedung Putih yang menolak menyebutkan nama menyatakan bahwa pengunduran diri Wagoner adalah permintaan dari pemerintahan Obama.
Pemerintah tidak mengeluarkan sepatah kata pun apakah pemerintah atau pihak lainnya mengetahui sejak kapan Wagoner mundur atau siapa yang menggantikannya.
Fritz Henderson, "Chief Operating Officer" GM, adalah orang nomor dua di GM dan diyakini banyak kalangan akan menggantikan Wagoner.
Minggu lalu Obama menyebutkan mismanajemen selama bertahun-tahun menjadi pemicu masalah keuangan hebat pada industri otomotif AS, sebuah tuduhan yang menyengat Wagoner karena bersama pimpinan Ford Motor Co Alan Mulally dan bos Chrysler Bob Nardelli, mereka relatif pendatang baru yang datang dari luar industri otomotif.
GM menderita rugi sekitar 82 miliar dolar AS sejak 2005 sampai kerusakan keuangan bertambah parah di masa ini. Nilai perusahaan ini amblas 95 persen sejak Wagoner menjabat CEO.
Wagoner sedang berada di Washington hari Jumat untuk bertemu dengan gugus tugas restrukturisasi otomotif yang ditunjuk DPR dan Obama akan menyampaikan rekomendasi gugus tugas ini hari Senin.
GM dan Chrysler telah meminta tambahan dana sebesar 22 miliar dolar AS kepada pemerintah untuk mengatasi melemahnya pasar kendaraan baru yang merupakan terendah dalam 30 tahun terakhir. Namun, Ford yang juga dilanda krisis tidak berupaya mencari bantuan pemerintah.
Minggu (Senin WIB) ini Obama menyatakan bahwa GM dan Chrysler tidak berbuat banyak untuk menyelamatkan diri mereka sendiri sejak menerima dana talangan 17,4 miliar dolar AS Desember lalu.
"Mereka belum berbuat," kata Obama dalam wawancara rekaman pada program berita CBS, "Face The Nation."
GM dan Chrysler telah memakai hampir semua dana talangan awal dan hampir bangkrut tanpa dana tambahan.
Chrysler yang harus bersaing dengan produsen mobil Italia Fiat SpA, menyatakan bahwa perusahaan ini memerlukan dana tambahan paling lambat Selasa ini untuk menghindari krisis likuiditas.
Namun kedua produsen otomotif ini belum menyelesaikan program efisiensi yang disyaratkan dalam paket dana talangan dari pemerintahan Bush yang bertenggat waktu 31 Maret untuk menentukan apakah kedua perusahaan itu perlu diselamatkan.
Para analis mengatakan keadaan ini menciptakan dilemma bagi Obama karena GM dan Chrysler mempekerjakan hampir 160 ribu warga AS dan membiarkan perusahaan otomotif tumbang akan mempersulit ekonomi AS terutama di daerah Midwest yang ekonominya masih diterkam resesi.
Obama menyatakan bahwa produsen otomotif mesti bekerja lebih banyak lagi untuk mendapatkan konsesi dari kreditor, buruh dan pihak lainnya.
"Kami kira kita bisa memiliki industri otomotif AS yang sukses. Tapi tampaknya hanya ada satu yang secara realistis bisa bertahan ditengah iklim seperti sekarang," kata Obama yang menekankan semua pihak untuk bersedia berkorban.
GM dan Chrysler memperoleh konsensi berupa kontrak pemutusan kerja dengan Serikat Pekerja Otomotif agar tingkat upah kedua perusahaan ini sejajar dengan produsen otomotif Jepang pimpinan Toyoto Motor Corp yang beroperasi di AS.
Namun kemudian GM dan Chrysler gagal memenuhi target dari pemerintah yang ditetapkan Desember. Target itu khususnya pembicaraan pengurangan utang di kedua perusahaan yang gagal menghasilkan kesepakatan apapun dalam enam minggu terakhir.
Lalu apa penyebab pemimpin gagal, hal ini pernah ditanyakan kepada Peter Druker. Lalu dijawab demikian: "Pemimpin gagal ketika melakukan apa yang ingin dilakukan, bukan melakukan apa yang perlu dilakukan."
Sebut saja Robby Djohan, mantan Pemimpin di Garuda Indonesia. Mulai dia masuk ke Garuda Indonesia, dia mengobrak abrik tatanan yang telah berakar lama, yang menjadikan penyebab kerugian terus menerus ditubuh salah satu perusahaan BUMN ini.
Berikut ini petikan resensi buku yang diambil dari Sinar Harapan:
Robby Djohan adalah seorang Chief Executive Officer (CEO) ”kelas dunia”. Ia dibesarkan oleh Citibank. Berkat didikan Citibank, Robby—begitu ia biasa dipanggil—menjadi orang Indonesia pertama yang mengenyam pendidikan Executive Development Program (EDP) Citibank. Ia dikenal sebagai seorang bankir yang benar-benar ”bertangan dingin”.
Dalam waktu kurang dari 5 tahun bekerja di Citibank, Robby dipercaya sebagai kepala salah satu dari empat kelompok usaha untuk menangani ”Group individual banking, Travel Cheques dan High net worth individuals”.
Apa rahasia kesuksesan Robby? Menurutnya, di Citibank, pendidikan dan pengembangan karir lebih penting daripada proses kerja. Citibank itu sangat dinamis. Hampir semua bidang terus berubah. Karyawan yang terlambat mengantisipasinya akan tertinggal.
Segala sesuatu disiapkan direncanakan sejak awal dan semua karyawan, termasuk para eksekutifnya terbuka terhadap perubahan dan siap melaksanakannya. Kondisi semacam ini sangat cocok dengan karakter Robby yang suka akan perubahan. Ia berprinsip bahwa perubahan merupakan inti dari manajemen dan kepemimpinan.
Kedudukan terakhir Robby mengawali kariernya pada 1967 di Citibank sebagai staf biasa di bagian umum. Puncak jabatannya sebagai eksekutif adalah menjadi kepala kelompok usaha untuk institusi-institusi keuangan pemerintah.
Delapan tahun malang melintang di Citibank membuatnya menguasai benar berbagai aspek pengelolaan bank. Kariernya pun sudah ”mentok” sehingga Citibank ditinggalkannya dalam usianya yang ke-38 tahun. Ia ingin mengembangkan kariernya di tempat lain.
Semangat Robby berkobar-kobar. Ia memandang dunia di luar Citibank dengan optimisme yang tinggi.
Cita-citanya ingin mengamalkan ilmu dan pengalamannya untuk mengembangkan bank nasional. Ketika meninggal Citibank di usia 38, Robby sebenarnya sedang menuju kematangan dalam karier profesionalnya.
Robby kemudian hijrah ke Bank Niaga. Bank milik pribumi yang kecil, tradisional, dan tidak terkenal itu dikembangkan Robby menjadi sebuah bank swasta nasional ”papan atas”.
Ketika kekuasaan Orde Baru di bawah kepemimpinan Soeharto sedang menuju kejatuhannya tahun 1998, melalui Tanri Abeng, Soeharto mempercayai Robby untuk menyelamatkan Garuda yang secara keuangan tengah bangkrut. Robby berhasil menghindari Garuda terperosok ke jurang kehancuran.
Keberhasilan di Garuda menghantarkan Robby ke tugas baru yang lebih berskala nasional, yaitu menggabungkan empat bank pemerintah—BBD, BDN, Bank Exim, dan Bapindo—menjadi Bank Mandiri seperti yang ada sekarang. Dalam usahanya menggabungkan keempat bank yang memiliki karakter dan budaya sangat berbeda, selain kentalnya birokrasi pemerintah di bank-bank ”plat merah” tersebut, watak kerja keras Robby sangat tampak.
Kalau IMF menargetkan restrukturisasi keempat bank itu dalam waktu dua tahun, Robby ternyata cuma membutuhkan waktu 6-7 bulan sehingga banyak orang tertegun melihat keberhasilannya.
Berikut ini, kiat-kiat bisnis yang dijalankan Robby. Pertama, misi dan budaya organisasi yang pragmatis. Dari pengalamannya sebagai CEO, menurut Robby, kalau organisasi serius mau mewujudkan sebuah pernyataan visi-misi, rumusan visi-misi itu harus pragmatis. Demikian juga budaya organisasinya harus berjalan seiring.
Karena itu kepada manajemen Garuda, Robby mencanangkan dan menitikberatkan, ”Sudahkah kita setiap hari menjadi lebih baik?” Inilah yang sekarang berkembang menjadi pernyataan misi Garuda: ”Kini Lebih Baik”. Lebih baik bagi semua—stakeholder mau pun karyawan, terlebih bagi para pelanggan.
Karena itu Garuda harus kompetitif dan mempunyai citra yang tinggi. Pemerintah sebagai stakeholder harus berkepentingan bahwa Garuda mampu beroperasi sesuai standar-standar bisnis yang berlaku dalam industri penerbangan, profitable, menjadi prasarana pengangkutan yang berguna. Para karyawan pun sebagai salah satu stakeholder, kepentingannya harus diakomodasi yakni kualitas hidupnya semakin hari semakin baik.
Kedua, pemimpin. Menurut Robby, tugas utama seorang pemimpin adalah memimpin. Ia tidak boleh terlalu melibatkan diri dalam proses operasional teknis, karena itu adalah tugas manajer.
Manajer adalah orang-orang yang terlibat dalam proses, memimpin orang-orang untuk melaksanakan pekerjaan guna mewujudkan keinginan pemimpin. Pemimpin adalah orang-orang yang melihat perubahan sebagai suatu potensi, memberi gagasan dan inspirasi, serta arah.
Sebagai seorang pemimpin yang baik, Robby lebih menyukai kerja efektif daripada kerja keras. Itu sebabnya, ketika memimpin Garuda Indonesia mau pun Bank Mandiri, Robby hanya memberikan arahan-arahan strategis dan menjamin bahwa apa yang menjadi arahan strategis itu dijalankan. Misalnya, beberapa persoalan utama seperti peningkatan citra, peningkatan kapasitas SDM, perbaikan kinerja keuangan, baik neraca maupun laporan rugi laba.
Ketiga, mendahulukan kepentingan perusahaan. Dalam hal ini, sebagai pemimpin menuru Robby, seseorang harus cepat dapat merumuskan segala persoalan, lalu bagaimana solusi harus dijalankan.
Keempat, kerjakan hari ini juga. Di Bank Niaga dikembangkan budaya antitunda. Kalau seorang manajer tidak setuju, ya ditolak. Tidak ada berkas yang ditinggalkan berlama-lama hingga bertumpuk-tumpuk. Tidak ada pekerjaan yang ditunda-tunda. Efek negatif dari penundaan adalah kemungkinan hilangnya kesempatan, biaya yang lebih tinggi, dan tertahannya proses kerja selanjutnya.
Kelima, mengambil keputusan. Mengambil keputusan itu menuntut keberanian yang tinggi. Misalnya soal memutuskan merger Bank Mandiri, apakah dilakukan dalam enam bulan atau dilaksanakan dalam dua tahun sesuai rencana pemerintah dan IMF.
Robby sebaga CEO berkeyakinan bahwa merger enam bulan adalah solusi terbaik karena untuk menangani bank yang merugi terus diperlukan centralized control yang baik.
Keenam, hidup dalam perubahan. Perubahan adalah sesuatu yang pasti terjadi. Karena itu siapa pun harus bisa menyesuaikan diri.
Bila tidak, seseorang akan kehilangan kesempatan untuk mendapatkan manfaat dari perubahan yang tengah terjadi. Misalnya, soal merger keempat bank pemerintah menjadi Bank Mandiri.
Ketujuh, tetapkan prioritas. Seorang pemimpin harus menentukan prioritas yang paling relevan. Sebab hidup ini penuh dengan keterbatasan. Tidak mungkin semua hal dikerjakan sekaligus.
Dalam kasus Garuda, misalnya, Robby membatasi permasalahan-permasalah yang menjadi problem utama sebagai prioritas.
Kedelapan, berorientasi pada pasar. Pasar itu dinamis dan terus berubah. Karena itu cara berpikir sebagai pengusaha harus bertumpu pada yang diinginkan pasar dengan memfokuskan diri pada hal yang bisa memberikan keuntungan besar dengan risiko yang relatif lebih kecil.
Selebihnya, Robby juga memberikan kiat untuk membangun kerjasama tim yang sinergis dan saluran komunikasi yang lancar bila ingin meraih kesuksesan yang besar dalam merestrukturisasi perusahaan.
Inilah pemimpin yang berhasil, mereka melakukan apa yang perlu dilakukan. GE dengan Jack Welch, IBM melalui Lou Gerstner, Xerox ditangan Anne Marie Dolan, Garuda Indonesia dipegang Robby Johan, Jamu Nyonya Meneer dengan Charles Saerang dan Grup Wing dibawah Freddy Katuary merupakan contoh dimana organisasi bisnis sukses menjalankan transformasi karena didukung penuh oleh para pemimpin mumpuni dan visioner.
Mengapa ada pemimpin yang tidak bisa melakukan apa yang perlu dilakukan? Hal ini banyak disebabkan oleh ketidakmauan pemimpin untuk mendengarkan dan bertanya.
Seperti busuknya ikan dimulai dari kepala ikan, demikian juga dengan kebangkrutan atau pertumbuhan perusahaan yang menurun disebabkan oleh pemimpinnya. Saya percaya pemimpin perusahan besar ini adalah alumni-alumni universitas terkenal di dunia.
Lalu bagaimana mungkin para pemimpin yang hebat-hebat ini, seperti Wagoner, CEO GM, yang dipaksa mundur oleh Obama, adalah pegawai yang sudah berkarir 20 tahun di GM.
Berikut petikan berita dari Republika Online:
WASHINGTON -- CEO General Motors Rick Wagoner mundur setelah menghadapi tekanan dari pemerintahan Obama yang hari Minggu ini (Senin WIB) bersiap mengumumkan dana talangan kedua untuk perusahaan ini dan pesaingnya yang lebih kecil Chrysler LLC.
Wagoner, seorang eksekutif karir GM dan menjabat CEO sejak tahun 2000, mengundurkan diri setelah produsen otomotif itu berjuang menghadapi turunnya penjualan akibat resesi yang memaksa GM dan para pemasok serta dealer diambang bangkrut.
"Bagi mereka mengganti pimpinan di tengah jalan adalah hal yang tidak pernah dilakukan GM, namun kini (Presiden Barack) Obama atau (Menteri Keuangan Timothy) Geithner bisa berkata, kami meminta mereka berkorban," kata Aaron Bragman, analis pada IHS Global Insight.
Ekonom dari Universitas Maryland, Peter Morici, pengkritik utama Wagoner yang pernah meminta Wagoner mundur namun dia kini malah percaya bahwa Wagoner sedang memulai menata perusahaan. Morici kini menyebut pemerintah menghadapi "masalah humas" berkaitan dengan paket dana talangan untuk perusahaan-perusahaan itu.
"Mereka hanya menalangi pihak yang pamer dan merengek meminta dana. Rakyat semakin letih karenanya dan alih-alih melemparkan seorang bankir ke kumpulan serigala pemerintah malah membesarkan Wagoner menjadi serigala," kata Morici.
GM sendiri tidak mengeluarkan pernyataan apapun berkaitan pengunduran diri Wagoner, namun seorang pejabat Gedung Putih yang menolak menyebutkan nama menyatakan bahwa pengunduran diri Wagoner adalah permintaan dari pemerintahan Obama.
Pemerintah tidak mengeluarkan sepatah kata pun apakah pemerintah atau pihak lainnya mengetahui sejak kapan Wagoner mundur atau siapa yang menggantikannya.
Fritz Henderson, "Chief Operating Officer" GM, adalah orang nomor dua di GM dan diyakini banyak kalangan akan menggantikan Wagoner.
Minggu lalu Obama menyebutkan mismanajemen selama bertahun-tahun menjadi pemicu masalah keuangan hebat pada industri otomotif AS, sebuah tuduhan yang menyengat Wagoner karena bersama pimpinan Ford Motor Co Alan Mulally dan bos Chrysler Bob Nardelli, mereka relatif pendatang baru yang datang dari luar industri otomotif.
GM menderita rugi sekitar 82 miliar dolar AS sejak 2005 sampai kerusakan keuangan bertambah parah di masa ini. Nilai perusahaan ini amblas 95 persen sejak Wagoner menjabat CEO.
Wagoner sedang berada di Washington hari Jumat untuk bertemu dengan gugus tugas restrukturisasi otomotif yang ditunjuk DPR dan Obama akan menyampaikan rekomendasi gugus tugas ini hari Senin.
GM dan Chrysler telah meminta tambahan dana sebesar 22 miliar dolar AS kepada pemerintah untuk mengatasi melemahnya pasar kendaraan baru yang merupakan terendah dalam 30 tahun terakhir. Namun, Ford yang juga dilanda krisis tidak berupaya mencari bantuan pemerintah.
Minggu (Senin WIB) ini Obama menyatakan bahwa GM dan Chrysler tidak berbuat banyak untuk menyelamatkan diri mereka sendiri sejak menerima dana talangan 17,4 miliar dolar AS Desember lalu.
"Mereka belum berbuat," kata Obama dalam wawancara rekaman pada program berita CBS, "Face The Nation."
GM dan Chrysler telah memakai hampir semua dana talangan awal dan hampir bangkrut tanpa dana tambahan.
Chrysler yang harus bersaing dengan produsen mobil Italia Fiat SpA, menyatakan bahwa perusahaan ini memerlukan dana tambahan paling lambat Selasa ini untuk menghindari krisis likuiditas.
Namun kedua produsen otomotif ini belum menyelesaikan program efisiensi yang disyaratkan dalam paket dana talangan dari pemerintahan Bush yang bertenggat waktu 31 Maret untuk menentukan apakah kedua perusahaan itu perlu diselamatkan.
Para analis mengatakan keadaan ini menciptakan dilemma bagi Obama karena GM dan Chrysler mempekerjakan hampir 160 ribu warga AS dan membiarkan perusahaan otomotif tumbang akan mempersulit ekonomi AS terutama di daerah Midwest yang ekonominya masih diterkam resesi.
Obama menyatakan bahwa produsen otomotif mesti bekerja lebih banyak lagi untuk mendapatkan konsesi dari kreditor, buruh dan pihak lainnya.
"Kami kira kita bisa memiliki industri otomotif AS yang sukses. Tapi tampaknya hanya ada satu yang secara realistis bisa bertahan ditengah iklim seperti sekarang," kata Obama yang menekankan semua pihak untuk bersedia berkorban.
GM dan Chrysler memperoleh konsensi berupa kontrak pemutusan kerja dengan Serikat Pekerja Otomotif agar tingkat upah kedua perusahaan ini sejajar dengan produsen otomotif Jepang pimpinan Toyoto Motor Corp yang beroperasi di AS.
Namun kemudian GM dan Chrysler gagal memenuhi target dari pemerintah yang ditetapkan Desember. Target itu khususnya pembicaraan pengurangan utang di kedua perusahaan yang gagal menghasilkan kesepakatan apapun dalam enam minggu terakhir.
Lalu apa penyebab pemimpin gagal, hal ini pernah ditanyakan kepada Peter Druker. Lalu dijawab demikian: "Pemimpin gagal ketika melakukan apa yang ingin dilakukan, bukan melakukan apa yang perlu dilakukan."
Sebut saja Robby Djohan, mantan Pemimpin di Garuda Indonesia. Mulai dia masuk ke Garuda Indonesia, dia mengobrak abrik tatanan yang telah berakar lama, yang menjadikan penyebab kerugian terus menerus ditubuh salah satu perusahaan BUMN ini.
Berikut ini petikan resensi buku yang diambil dari Sinar Harapan:
Robby Djohan adalah seorang Chief Executive Officer (CEO) ”kelas dunia”. Ia dibesarkan oleh Citibank. Berkat didikan Citibank, Robby—begitu ia biasa dipanggil—menjadi orang Indonesia pertama yang mengenyam pendidikan Executive Development Program (EDP) Citibank. Ia dikenal sebagai seorang bankir yang benar-benar ”bertangan dingin”.
Dalam waktu kurang dari 5 tahun bekerja di Citibank, Robby dipercaya sebagai kepala salah satu dari empat kelompok usaha untuk menangani ”Group individual banking, Travel Cheques dan High net worth individuals”.
Apa rahasia kesuksesan Robby? Menurutnya, di Citibank, pendidikan dan pengembangan karir lebih penting daripada proses kerja. Citibank itu sangat dinamis. Hampir semua bidang terus berubah. Karyawan yang terlambat mengantisipasinya akan tertinggal.
Segala sesuatu disiapkan direncanakan sejak awal dan semua karyawan, termasuk para eksekutifnya terbuka terhadap perubahan dan siap melaksanakannya. Kondisi semacam ini sangat cocok dengan karakter Robby yang suka akan perubahan. Ia berprinsip bahwa perubahan merupakan inti dari manajemen dan kepemimpinan.
Kedudukan terakhir Robby mengawali kariernya pada 1967 di Citibank sebagai staf biasa di bagian umum. Puncak jabatannya sebagai eksekutif adalah menjadi kepala kelompok usaha untuk institusi-institusi keuangan pemerintah.
Delapan tahun malang melintang di Citibank membuatnya menguasai benar berbagai aspek pengelolaan bank. Kariernya pun sudah ”mentok” sehingga Citibank ditinggalkannya dalam usianya yang ke-38 tahun. Ia ingin mengembangkan kariernya di tempat lain.
Semangat Robby berkobar-kobar. Ia memandang dunia di luar Citibank dengan optimisme yang tinggi.
Cita-citanya ingin mengamalkan ilmu dan pengalamannya untuk mengembangkan bank nasional. Ketika meninggal Citibank di usia 38, Robby sebenarnya sedang menuju kematangan dalam karier profesionalnya.
Robby kemudian hijrah ke Bank Niaga. Bank milik pribumi yang kecil, tradisional, dan tidak terkenal itu dikembangkan Robby menjadi sebuah bank swasta nasional ”papan atas”.
Ketika kekuasaan Orde Baru di bawah kepemimpinan Soeharto sedang menuju kejatuhannya tahun 1998, melalui Tanri Abeng, Soeharto mempercayai Robby untuk menyelamatkan Garuda yang secara keuangan tengah bangkrut. Robby berhasil menghindari Garuda terperosok ke jurang kehancuran.
Keberhasilan di Garuda menghantarkan Robby ke tugas baru yang lebih berskala nasional, yaitu menggabungkan empat bank pemerintah—BBD, BDN, Bank Exim, dan Bapindo—menjadi Bank Mandiri seperti yang ada sekarang. Dalam usahanya menggabungkan keempat bank yang memiliki karakter dan budaya sangat berbeda, selain kentalnya birokrasi pemerintah di bank-bank ”plat merah” tersebut, watak kerja keras Robby sangat tampak.
Kalau IMF menargetkan restrukturisasi keempat bank itu dalam waktu dua tahun, Robby ternyata cuma membutuhkan waktu 6-7 bulan sehingga banyak orang tertegun melihat keberhasilannya.
Berikut ini, kiat-kiat bisnis yang dijalankan Robby. Pertama, misi dan budaya organisasi yang pragmatis. Dari pengalamannya sebagai CEO, menurut Robby, kalau organisasi serius mau mewujudkan sebuah pernyataan visi-misi, rumusan visi-misi itu harus pragmatis. Demikian juga budaya organisasinya harus berjalan seiring.
Karena itu kepada manajemen Garuda, Robby mencanangkan dan menitikberatkan, ”Sudahkah kita setiap hari menjadi lebih baik?” Inilah yang sekarang berkembang menjadi pernyataan misi Garuda: ”Kini Lebih Baik”. Lebih baik bagi semua—stakeholder mau pun karyawan, terlebih bagi para pelanggan.
Karena itu Garuda harus kompetitif dan mempunyai citra yang tinggi. Pemerintah sebagai stakeholder harus berkepentingan bahwa Garuda mampu beroperasi sesuai standar-standar bisnis yang berlaku dalam industri penerbangan, profitable, menjadi prasarana pengangkutan yang berguna. Para karyawan pun sebagai salah satu stakeholder, kepentingannya harus diakomodasi yakni kualitas hidupnya semakin hari semakin baik.
Kedua, pemimpin. Menurut Robby, tugas utama seorang pemimpin adalah memimpin. Ia tidak boleh terlalu melibatkan diri dalam proses operasional teknis, karena itu adalah tugas manajer.
Manajer adalah orang-orang yang terlibat dalam proses, memimpin orang-orang untuk melaksanakan pekerjaan guna mewujudkan keinginan pemimpin. Pemimpin adalah orang-orang yang melihat perubahan sebagai suatu potensi, memberi gagasan dan inspirasi, serta arah.
Sebagai seorang pemimpin yang baik, Robby lebih menyukai kerja efektif daripada kerja keras. Itu sebabnya, ketika memimpin Garuda Indonesia mau pun Bank Mandiri, Robby hanya memberikan arahan-arahan strategis dan menjamin bahwa apa yang menjadi arahan strategis itu dijalankan. Misalnya, beberapa persoalan utama seperti peningkatan citra, peningkatan kapasitas SDM, perbaikan kinerja keuangan, baik neraca maupun laporan rugi laba.
Ketiga, mendahulukan kepentingan perusahaan. Dalam hal ini, sebagai pemimpin menuru Robby, seseorang harus cepat dapat merumuskan segala persoalan, lalu bagaimana solusi harus dijalankan.
Keempat, kerjakan hari ini juga. Di Bank Niaga dikembangkan budaya antitunda. Kalau seorang manajer tidak setuju, ya ditolak. Tidak ada berkas yang ditinggalkan berlama-lama hingga bertumpuk-tumpuk. Tidak ada pekerjaan yang ditunda-tunda. Efek negatif dari penundaan adalah kemungkinan hilangnya kesempatan, biaya yang lebih tinggi, dan tertahannya proses kerja selanjutnya.
Kelima, mengambil keputusan. Mengambil keputusan itu menuntut keberanian yang tinggi. Misalnya soal memutuskan merger Bank Mandiri, apakah dilakukan dalam enam bulan atau dilaksanakan dalam dua tahun sesuai rencana pemerintah dan IMF.
Robby sebaga CEO berkeyakinan bahwa merger enam bulan adalah solusi terbaik karena untuk menangani bank yang merugi terus diperlukan centralized control yang baik.
Keenam, hidup dalam perubahan. Perubahan adalah sesuatu yang pasti terjadi. Karena itu siapa pun harus bisa menyesuaikan diri.
Bila tidak, seseorang akan kehilangan kesempatan untuk mendapatkan manfaat dari perubahan yang tengah terjadi. Misalnya, soal merger keempat bank pemerintah menjadi Bank Mandiri.
Ketujuh, tetapkan prioritas. Seorang pemimpin harus menentukan prioritas yang paling relevan. Sebab hidup ini penuh dengan keterbatasan. Tidak mungkin semua hal dikerjakan sekaligus.
Dalam kasus Garuda, misalnya, Robby membatasi permasalahan-permasalah yang menjadi problem utama sebagai prioritas.
Kedelapan, berorientasi pada pasar. Pasar itu dinamis dan terus berubah. Karena itu cara berpikir sebagai pengusaha harus bertumpu pada yang diinginkan pasar dengan memfokuskan diri pada hal yang bisa memberikan keuntungan besar dengan risiko yang relatif lebih kecil.
Selebihnya, Robby juga memberikan kiat untuk membangun kerjasama tim yang sinergis dan saluran komunikasi yang lancar bila ingin meraih kesuksesan yang besar dalam merestrukturisasi perusahaan.
Inilah pemimpin yang berhasil, mereka melakukan apa yang perlu dilakukan. GE dengan Jack Welch, IBM melalui Lou Gerstner, Xerox ditangan Anne Marie Dolan, Garuda Indonesia dipegang Robby Johan, Jamu Nyonya Meneer dengan Charles Saerang dan Grup Wing dibawah Freddy Katuary merupakan contoh dimana organisasi bisnis sukses menjalankan transformasi karena didukung penuh oleh para pemimpin mumpuni dan visioner.
Mengapa ada pemimpin yang tidak bisa melakukan apa yang perlu dilakukan? Hal ini banyak disebabkan oleh ketidakmauan pemimpin untuk mendengarkan dan bertanya.
BISNIS ADALAH MENGENAI KESEMPATAN
Berbisnis bisa dikatakan adu kejelian, siapa yang jeli melihat ceruk atau area putih di pasar yang belum digarap. Anda belum berbisnis dan bukan pebisnis jika tidak bisa melihat dan menggarap ceruk tersebut.
JCO adalah contoh baik, pebisnis yang mampu melihat dan memanfaatkan ceruk. Bagaimana tidak pada saat itu pemimpin pasar donut premium, "Dunkin Donut", melakukan penjualan donut secara tradisional. Beli dan Jual hanya itu yang dilakukan oleh Dunkin Donut. Mungkin terinspirasi oleh keberhasilan "Sturbuck", Johny Andrean, Pemilik JCO, ingin mengulangi keberhasilan "Sturbuck" melalui donut. Sama dengan Sturbuck, JCO bukan hanya menjual Donut, tapi menjual kenyamanan, tempat nongkrong sehabis lelah dalam bekerja. Tidak hanya itu, JCO memberikan kesan dan sesuatu yang baru mengenai bentuk dan rasa donut. Hal ini tidak dilakukan oleh Dunkin Donut.
Hukum Bisnis terjadi, JCO memenuhi ceruk, yaitu kebutuhan pasar yang belum terpenuhi, siapa yang memenuhi produknya akan diterima dan disukai pasar, demikian sebaliknya. Dunkin Donut sangat terasa mundur selangkah demi selangkah.
Kemampuan melihat ceruk berarti pebisnis sedang melihat kesempatan. Makna kesempatan bisnis kuno berarti bagaimana perusahaan merebut "kue" di pasar. Makna seperti ini sudah tidak mumpuni lagi bila diterapkan dengan kondisi saat ini. Makna kesempatan bisnis modern adalah bagaimana menciptakan pasar baru. Peter Drucker mengatakan: "kesempatan adalah hasil dari ciptaan." Bukan memperbaiki yang sudah ada, tapi menciptakan yang baru, yang sebelumnya belum ada.
Force Magic, memposisikan diri bukan sebagai perusahaan yang ingin merebut pasar obat pembasmi nyamuk, tapi mereka membuka pasar baru, pembasmi nyamuk dengan aroma yang wangi dan tidak merusak kesehatan saat menghirupnya.
Sekali lagi bisnis adalah kemampuan melihat kesempatan pada sebuah ceruk, disanalah tempat kebutuhan customer yang belum terpenuhi.
JCO adalah contoh baik, pebisnis yang mampu melihat dan memanfaatkan ceruk. Bagaimana tidak pada saat itu pemimpin pasar donut premium, "Dunkin Donut", melakukan penjualan donut secara tradisional. Beli dan Jual hanya itu yang dilakukan oleh Dunkin Donut. Mungkin terinspirasi oleh keberhasilan "Sturbuck", Johny Andrean, Pemilik JCO, ingin mengulangi keberhasilan "Sturbuck" melalui donut. Sama dengan Sturbuck, JCO bukan hanya menjual Donut, tapi menjual kenyamanan, tempat nongkrong sehabis lelah dalam bekerja. Tidak hanya itu, JCO memberikan kesan dan sesuatu yang baru mengenai bentuk dan rasa donut. Hal ini tidak dilakukan oleh Dunkin Donut.
Hukum Bisnis terjadi, JCO memenuhi ceruk, yaitu kebutuhan pasar yang belum terpenuhi, siapa yang memenuhi produknya akan diterima dan disukai pasar, demikian sebaliknya. Dunkin Donut sangat terasa mundur selangkah demi selangkah.
Kemampuan melihat ceruk berarti pebisnis sedang melihat kesempatan. Makna kesempatan bisnis kuno berarti bagaimana perusahaan merebut "kue" di pasar. Makna seperti ini sudah tidak mumpuni lagi bila diterapkan dengan kondisi saat ini. Makna kesempatan bisnis modern adalah bagaimana menciptakan pasar baru. Peter Drucker mengatakan: "kesempatan adalah hasil dari ciptaan." Bukan memperbaiki yang sudah ada, tapi menciptakan yang baru, yang sebelumnya belum ada.
Force Magic, memposisikan diri bukan sebagai perusahaan yang ingin merebut pasar obat pembasmi nyamuk, tapi mereka membuka pasar baru, pembasmi nyamuk dengan aroma yang wangi dan tidak merusak kesehatan saat menghirupnya.
Sekali lagi bisnis adalah kemampuan melihat kesempatan pada sebuah ceruk, disanalah tempat kebutuhan customer yang belum terpenuhi.
Sabtu, 20 Desember 2008
CARA MEMILIH SEGMENTASI PREMIUM ATAU SECOND LINE ?
Masakan yang hambar sama dengan perusahaan yang tidak jelas dalam penetapan segmentasi pasarnya: premium atau second line ? Akibatnya perusahaan seperti ini akan menjadi perusahaan yang umum, mudah ditemui, dan tidak maju. Perusahaan yang tidak jelas segmentasinya sama saja dengan orang yang tidak tahu jati dirinya sebenarnya.
Penetapan segmentasi ini menjadi penting, karena akan mempengaruhi bentuk bangunan yang kita miliki, interior, fasilitas pendukung, pemilihan instrumen promosi dan iklannya.
SISI POSITIF SECOND LINE
Dampak ekonomi dunia yang terus mengguras daya beli konsumen, mengakibatkan mereka memark-down produk atau jasa yang mereka butuhkan. Misal, dulu orang yang mempunyai daya beli membeli mobil kelas 300jtan ke atas memark-down dirinya untuk membeli mobil berkelas 150-200jtan. Mereka yang dulu punya uang pas-pasan untuk membeli mobil sekelas xenia dengan cicilan, memark-down dirinya dengan kendaraan motor roda dua. Porsi orang yang berani membayar mahal demi merk dan gengsi semakin kecil. Sebaliknya porsi orang yang rasional, dengan lebih mempertimbangkan fungsi dan harga dibandingkan merk dan gengsi semakin besar. Konsumen sudah semakin jeli dan tidak "grasa grusu" dalam memilih sebuah produk atau jasa. Mereka sangat teliti membandingkan produk antara personal image dengan benefit yang dia dapatkan.
SISI POSITIF PREMIUM LINE
Walau dampak ekonomi terus menghantam, sepertinya tiada berhenti, tetap saja orang kaya selalu ada di muka bumi ini. Apalagi dengan karakteristik konsumen Indonesia yang dikenal boros, konsumtif, prestise, dan berani. Perusahaan yang bermain di segmen ini akan mudah untuk mencari margin laba yang besar, karena pemain di segmen ini bisa dibilang langka, dan pemain di segmen ini adalah perusahaan yang sudah dewasa. Mereka lebih mengutamakan kualitas dan pelayanan dibandingkan dengan banting harga. Mereka lebih memfokuskan membangun network, seperti membentuk komunitas, dalam memasarkan produknya. Mereka juga sibuk bagaimana membangun kekhasan produk atau jasa yang dijual. Segmen ini masih sangat berpeluang di kota-kota besar, yang didukung banyaknya orang kaya dan turis bisnis maupun turis wisata.
KIAT MEMILIH SEGMEN YANG TEPAT BAGI PERUSAHAAN ANDA
1. Apakah produk atau jasa Anda saat ini memiliki kekhasan yang tinggi ?
2. Apakah produk atau jasa Anda saat ini memiliki pemimpin kualitas produk atau jasa
sejenis ?
3. Apakah perusahaan Anda saat ini sangat kuat brandingnya ?
4. Apakah Anda sebagi owner/founder mempunyai personal branding yang kuat ?
5. Apakah perusahaan Anda memiliki jaringan/network yang identik dengan orang
berduit?
6. Apakah di wilayah pasar Anda kompetitor sudah banyak bermain di Premium Line ?
7. Apakah perusahaan Anda sudah eksis lama ?
8. Apakah perusahaan Anda terbiasa dan benar-benar diakui positif karena mampu
memberikan sentuhan dan pengelaman yang emosional bagi pelanggan Anda ?
Jika jawaban Anda kebanyakaan "Ya", maka Anda bisa memasuki segmen Premium Line, jika "Tidak" adalah jawaban terbanyaknya, maka Anda sebaiknya masuk ke segmen Second Line.
Beberapa waktu lalu saya melihat siaran di TV Channel "Travel&Living" yang memberitakan kenikmatan yang diberikan salah satu Hotel yang saya lupa namanya di Manca Negara. Tapi yang saya ingat dan kagumi salah satu fasilitas Hotel tersebut adalah seekor anjing bagus dan jinak. Anjing itu memang ditawarkan oleh pihak hotel secara gratis untuk dibawa oleh tamu hotel keluar hotel. Sambil menikmati pemandangan di sekitar Hotel dan ditemani oleh anjing yang bagus, jinak, dan plus lucu.
Hotel ini sudah berhasil membangun Hotel bersegmen Premium Line. Dan Hotel tersebut sedang menuai hasil jerih lelahnya. Bagaimana dengan Anda ?
Penetapan segmentasi ini menjadi penting, karena akan mempengaruhi bentuk bangunan yang kita miliki, interior, fasilitas pendukung, pemilihan instrumen promosi dan iklannya.
SISI POSITIF SECOND LINE
Dampak ekonomi dunia yang terus mengguras daya beli konsumen, mengakibatkan mereka memark-down produk atau jasa yang mereka butuhkan. Misal, dulu orang yang mempunyai daya beli membeli mobil kelas 300jtan ke atas memark-down dirinya untuk membeli mobil berkelas 150-200jtan. Mereka yang dulu punya uang pas-pasan untuk membeli mobil sekelas xenia dengan cicilan, memark-down dirinya dengan kendaraan motor roda dua. Porsi orang yang berani membayar mahal demi merk dan gengsi semakin kecil. Sebaliknya porsi orang yang rasional, dengan lebih mempertimbangkan fungsi dan harga dibandingkan merk dan gengsi semakin besar. Konsumen sudah semakin jeli dan tidak "grasa grusu" dalam memilih sebuah produk atau jasa. Mereka sangat teliti membandingkan produk antara personal image dengan benefit yang dia dapatkan.
SISI POSITIF PREMIUM LINE
Walau dampak ekonomi terus menghantam, sepertinya tiada berhenti, tetap saja orang kaya selalu ada di muka bumi ini. Apalagi dengan karakteristik konsumen Indonesia yang dikenal boros, konsumtif, prestise, dan berani. Perusahaan yang bermain di segmen ini akan mudah untuk mencari margin laba yang besar, karena pemain di segmen ini bisa dibilang langka, dan pemain di segmen ini adalah perusahaan yang sudah dewasa. Mereka lebih mengutamakan kualitas dan pelayanan dibandingkan dengan banting harga. Mereka lebih memfokuskan membangun network, seperti membentuk komunitas, dalam memasarkan produknya. Mereka juga sibuk bagaimana membangun kekhasan produk atau jasa yang dijual. Segmen ini masih sangat berpeluang di kota-kota besar, yang didukung banyaknya orang kaya dan turis bisnis maupun turis wisata.
KIAT MEMILIH SEGMEN YANG TEPAT BAGI PERUSAHAAN ANDA
1. Apakah produk atau jasa Anda saat ini memiliki kekhasan yang tinggi ?
2. Apakah produk atau jasa Anda saat ini memiliki pemimpin kualitas produk atau jasa
sejenis ?
3. Apakah perusahaan Anda saat ini sangat kuat brandingnya ?
4. Apakah Anda sebagi owner/founder mempunyai personal branding yang kuat ?
5. Apakah perusahaan Anda memiliki jaringan/network yang identik dengan orang
berduit?
6. Apakah di wilayah pasar Anda kompetitor sudah banyak bermain di Premium Line ?
7. Apakah perusahaan Anda sudah eksis lama ?
8. Apakah perusahaan Anda terbiasa dan benar-benar diakui positif karena mampu
memberikan sentuhan dan pengelaman yang emosional bagi pelanggan Anda ?
Jika jawaban Anda kebanyakaan "Ya", maka Anda bisa memasuki segmen Premium Line, jika "Tidak" adalah jawaban terbanyaknya, maka Anda sebaiknya masuk ke segmen Second Line.
Beberapa waktu lalu saya melihat siaran di TV Channel "Travel&Living" yang memberitakan kenikmatan yang diberikan salah satu Hotel yang saya lupa namanya di Manca Negara. Tapi yang saya ingat dan kagumi salah satu fasilitas Hotel tersebut adalah seekor anjing bagus dan jinak. Anjing itu memang ditawarkan oleh pihak hotel secara gratis untuk dibawa oleh tamu hotel keluar hotel. Sambil menikmati pemandangan di sekitar Hotel dan ditemani oleh anjing yang bagus, jinak, dan plus lucu.
Hotel ini sudah berhasil membangun Hotel bersegmen Premium Line. Dan Hotel tersebut sedang menuai hasil jerih lelahnya. Bagaimana dengan Anda ?
Senin, 15 Desember 2008
CARA PROMO DAN IKLAN YANG EFEKTIF
Ada beberapa hal perlu disadari para marketer saat menggelontorkan sebuah promo dan iklan, yakni :
1. Apakah promo dan iklan tersebut meningkatkan branding
2. Apakah promo dan iklan tersebut sesuai dengan tujuannya
(meningkatkan sales or marketing)
3. Apakah promo dan iklan tersebut kreatif, sehingga menjadi pusat
perhatian ditengah hiruk pikuk promo dan iklan yang lain
4. Apakah promo dan iklan tersebut menggunakan media yang tepat, jika
dihubungkan dengan target pasar yang ingin kita raih
5. Apakah promo dan iklan tersebut sesuai dengan fase pertumbuhan
bisnis perusahaan
Kelima hal di atas, jika Anda gagal, sama saja Anda membuang belanja promo dan iklan perusahaan dengan percuma. Diperkirakan belanja iklan di tahun 2007 lebih tinggi 5 Triliun dibanding tahun 2006 sebesar 30 Triliun, naik 17%. Belanja iklan perusahaan seperti Pertamina saja sebesar 20-30 Milyar. Dan saya percaya kita semua mengamini jika hampir semua perusahaan biaya promosi dan iklannya termasuk biaya terbesar jika dibandingkan biaya lainnya, kecuali Harga Pokok Penjualan.
Kita akan fokus membicarakan hubungan fase pertumbuhan bisnis dengan strategi promo dan iklan yang tepat.
Sebuah perusahaan tentu akan mengalami siklus sebagai berikut :
BIRTH ---> GROWTH ---> MATURITY ---> DECLINE ---> DEATH
Saat perusahaan Anda pada fase BIRTH, maka :
Do :
1. Promo dan iklan yang mengedukasi
2. Promo dan iklan yang secara massal
3. Promo dan iklan yang sensasional
Don't :
1. Promo dan iklan yang berguna untuk branding
2. Promo dan iklan yang membandingkan (comparative ad.)
3. Promo dan iklan bertujuan untuk customer loyalty dan emosional
Saat perusahaan Anda pada fase GROWTH, maka :
Do :
1. Promo dan iklan yang menciptakan customer loyalty
2. Promo dan iklan yang mulai membangun brand image
3. Promo dan iklan yang mengedukasi
3. Promo dan iklan yang sedikit sensasional
Don't :
1. Promo dan iklan yang secara massal
2. Promo dan iklan yang membandingkan (comparative ad.)
Saat perusahaan Anda pada fase MATURITY, maka :
Do :
1. Promo dan iklan yang memperkuat brand image
2. Promo dan iklan yang lebih elegan
3. Promo dan iklan yang membandingkan (comparative ad.)
4. Promo dan iklan yang memberikan sentuhan emosional
Don't :
1. Promo dan iklan yang secara massal
2. Promo dan iklan yang mengedukasi
Saat perusahaan Anda pada fase DECLINE, maka :
Do :
1. Promo dan iklan yang menjelaskan inovasi produk
2. Promo dan iklan yang massal
3. Promo dan iklan yang sensasional
Don't :
1. Promo dan iklan yang membandingkan (comparative ad.)
2. Promo dan iklan yang menonjolkan branding
Saat perusahaan Anda pada fase DEATH, maka :
Do :
Sama dengan fase BIRTH + DECLINE
Don't :
Sama dengan fase BIRTH + DECLINE
Iklan Force Magic bisa menjadi contoh bisnis pada fase BIRTH, terlihat iklan tersebut mengedukasi pasar untuk memilih obat nyamuk yang baik buat kesehatan.
Promo dan iklan Mie Sedap bisa menjadi contoh bisnis fase GROWTH, yang kental dengan nuansa membangun brand image mie bungkus dengan memasang iconnya Titi Kamal.
1. Apakah promo dan iklan tersebut meningkatkan branding
2. Apakah promo dan iklan tersebut sesuai dengan tujuannya
(meningkatkan sales or marketing)
3. Apakah promo dan iklan tersebut kreatif, sehingga menjadi pusat
perhatian ditengah hiruk pikuk promo dan iklan yang lain
4. Apakah promo dan iklan tersebut menggunakan media yang tepat, jika
dihubungkan dengan target pasar yang ingin kita raih
5. Apakah promo dan iklan tersebut sesuai dengan fase pertumbuhan
bisnis perusahaan
Kelima hal di atas, jika Anda gagal, sama saja Anda membuang belanja promo dan iklan perusahaan dengan percuma. Diperkirakan belanja iklan di tahun 2007 lebih tinggi 5 Triliun dibanding tahun 2006 sebesar 30 Triliun, naik 17%. Belanja iklan perusahaan seperti Pertamina saja sebesar 20-30 Milyar. Dan saya percaya kita semua mengamini jika hampir semua perusahaan biaya promosi dan iklannya termasuk biaya terbesar jika dibandingkan biaya lainnya, kecuali Harga Pokok Penjualan.
Kita akan fokus membicarakan hubungan fase pertumbuhan bisnis dengan strategi promo dan iklan yang tepat.
Sebuah perusahaan tentu akan mengalami siklus sebagai berikut :
BIRTH ---> GROWTH ---> MATURITY ---> DECLINE ---> DEATH
Saat perusahaan Anda pada fase BIRTH, maka :
Do :
1. Promo dan iklan yang mengedukasi
2. Promo dan iklan yang secara massal
3. Promo dan iklan yang sensasional
Don't :
1. Promo dan iklan yang berguna untuk branding
2. Promo dan iklan yang membandingkan (comparative ad.)
3. Promo dan iklan bertujuan untuk customer loyalty dan emosional
Saat perusahaan Anda pada fase GROWTH, maka :
Do :
1. Promo dan iklan yang menciptakan customer loyalty
2. Promo dan iklan yang mulai membangun brand image
3. Promo dan iklan yang mengedukasi
3. Promo dan iklan yang sedikit sensasional
Don't :
1. Promo dan iklan yang secara massal
2. Promo dan iklan yang membandingkan (comparative ad.)
Saat perusahaan Anda pada fase MATURITY, maka :
Do :
1. Promo dan iklan yang memperkuat brand image
2. Promo dan iklan yang lebih elegan
3. Promo dan iklan yang membandingkan (comparative ad.)
4. Promo dan iklan yang memberikan sentuhan emosional
Don't :
1. Promo dan iklan yang secara massal
2. Promo dan iklan yang mengedukasi
Saat perusahaan Anda pada fase DECLINE, maka :
Do :
1. Promo dan iklan yang menjelaskan inovasi produk
2. Promo dan iklan yang massal
3. Promo dan iklan yang sensasional
Don't :
1. Promo dan iklan yang membandingkan (comparative ad.)
2. Promo dan iklan yang menonjolkan branding
Saat perusahaan Anda pada fase DEATH, maka :
Do :
Sama dengan fase BIRTH + DECLINE
Don't :
Sama dengan fase BIRTH + DECLINE
Iklan Force Magic bisa menjadi contoh bisnis pada fase BIRTH, terlihat iklan tersebut mengedukasi pasar untuk memilih obat nyamuk yang baik buat kesehatan.
Promo dan iklan Mie Sedap bisa menjadi contoh bisnis fase GROWTH, yang kental dengan nuansa membangun brand image mie bungkus dengan memasang iconnya Titi Kamal.
Sabtu, 13 Desember 2008
4 LANGKAH KEPEMIMPINAN DIRI/4 STEPS FOR SELF LEADERSHIP
Menjadi pemimpin haruslah mereka yang bisa mengurusi keluarga. Namun ingin menjadi pemimpin besar haruslah mereka yang bisa memimpin dirinya sendiri.
Syarat kepemimpinan diri :
1.Mampu mengendalikan diri
·Kesalahan Musa ;
Act 7:20 Pada waktu itulah Musa lahir dan ia elok di mata Allah. Tiga bulan lamanya ia diasuh di rumah ayahnya.
Act 7:21 Lalu ia dibuang, tetapi puteri Firaun memungutnya dan menyuruh mengasuhnya seperti anaknya sendiri.
Act 7:22 Dan Musa dididik dalam segala hikmat orang Mesir, dan ia berkuasa dalam perkataan dan perbuatannya.
Act 7:23 Pada waktu ia berumur empat puluh tahun, timbullah keinginan dalam hatinya untuk mengunjungi saudara-saudaranya, yaitu orang-orang Israel.
Act 7:24 Ketika itu ia melihat seorang dianiaya oleh seorang Mesir, lalu ia menolong dan membela orang itu dengan membunuh orang Mesir itu.
Act 7:25 Pada sangkanya saudara-saudaranya akan mengerti, bahwa Allah memakai dia untuk menyelamatkan mereka, tetapi mereka tidak mengerti.
Act 7:26 Pada keesokan harinya ia muncul pula ketika dua orang Israel sedang berkelahi, lalu ia berusaha mendamaikan mereka, katanya: Saudara-saudara! Bukankah kamu ini bersaudara? Mengapakah kamu saling menganiaya?
Act 7:27 Tetapi orang yang berbuat salah kepada temannya itu menolak Musa dan berkata: Siapakah yang mengangkat engkau menjadi pemimpin dan hakim atas kami?
Act 7:28 Apakah engkau bermaksud membunuh aku, sama seperti kemarin engkau membunuh orang Mesir itu?
Kesalahannya : Tanpa seijin Tuhan, membunuh, tindakannya emosional bukan rasional, tidak sesuai waktunya Tuhan
Tahukah Anda prilaku Manager "kodok" ?
Mereka adalah manager yang berjalan dengan menyikut kiri kanannya, seperti gaya kodok berjalan.
Mampu mengendalikan diri = aku menguasai lingkunganku bukan lingkunganku membuat aku seperti ini.
·Kendalikan emosi dan cara Anda bertindak. Ada 3 area; area tidak baik (saya kepala aparat keamanan, tidak menyelesaikan kemalingan karena tidak ada uang buat saya), area baik (saya calon gubernur, saya memberi sembako) dan area benar (saya hamba Tuhan, turun ke jalan-jalan untuk membantu penderitaan rakyat miskin, walau saya sudah nyaman untuk duduk diam di gereja, dia adalah Mother Theresa)
·Tujuan vs Cara.
Ada 4 dimensi; penolakan, antipati, manipulatif dan pengaruh
1. Jika tujuan Anda tidak baik dan caranya tidak baik maka Anda menuai penolakkan
2. Jika tujuan Anda baik dan caranya tidak baik maka Anda akan menuai antipati
3. Jika tujuan Anda tidak baik dan caranya baik maka Anda sedang manipulatif
4. Jika tujuan Anda baik dan caranya baik maka Anda menuai pengaruh
Ingat ! Leadership is about how to influence. Anda perlu membangun diri dengan bertindak untuk tujuan yang baik dan dengan cara yang baik pula.
2.Jadilah diri Anda dengan 3 K = Konsisten, Konsekuen dan Komitmen.
Konsisten = dapat dipercaya; apa yang kita katakan, kita lakukan.
Konsekuen = kerjakan hingga selesai.
Komitmen = lakukan yang terbaik yang Anda bisa.
3.Hidup dalam potensi penuh.
3 Rules hidup dalam potensi penuh :
a. Selalu terus belajar. Mereka terbuka terhadap masukan demi pertumbuhan pribadinya
b. Tekun. Mereka tidak seperti tentara Inggris yang kalah berperang dengan Turki, padahal asal mereka tetap menyerang Turki 1 menit lebih lama mereka akan menang. Karena tentara Turki sudah kehabisan amunisi dan sudah siap untuk mengangkat bendera menyerah.
c. Tidak cepat puas. Andaikata SBY cepat puas, maka dia tidak akan pernah menjadi Presiden. Cukup dengan pangkat Jendralnya, sungguh kebanggaan yang luar biasa baginya , anak Pacitan menjadi Jendral.
4.Bertumbuh.
Proses bertumbuh : This is my decision + Taka a step + Self Evaluation + Renewal (Ini keputusanku + Melangkah + Evaluasi diri + Pembaharuan )
Syarat kepemimpinan diri :
1.Mampu mengendalikan diri
·Kesalahan Musa ;
Act 7:20 Pada waktu itulah Musa lahir dan ia elok di mata Allah. Tiga bulan lamanya ia diasuh di rumah ayahnya.
Act 7:21 Lalu ia dibuang, tetapi puteri Firaun memungutnya dan menyuruh mengasuhnya seperti anaknya sendiri.
Act 7:22 Dan Musa dididik dalam segala hikmat orang Mesir, dan ia berkuasa dalam perkataan dan perbuatannya.
Act 7:23 Pada waktu ia berumur empat puluh tahun, timbullah keinginan dalam hatinya untuk mengunjungi saudara-saudaranya, yaitu orang-orang Israel.
Act 7:24 Ketika itu ia melihat seorang dianiaya oleh seorang Mesir, lalu ia menolong dan membela orang itu dengan membunuh orang Mesir itu.
Act 7:25 Pada sangkanya saudara-saudaranya akan mengerti, bahwa Allah memakai dia untuk menyelamatkan mereka, tetapi mereka tidak mengerti.
Act 7:26 Pada keesokan harinya ia muncul pula ketika dua orang Israel sedang berkelahi, lalu ia berusaha mendamaikan mereka, katanya: Saudara-saudara! Bukankah kamu ini bersaudara? Mengapakah kamu saling menganiaya?
Act 7:27 Tetapi orang yang berbuat salah kepada temannya itu menolak Musa dan berkata: Siapakah yang mengangkat engkau menjadi pemimpin dan hakim atas kami?
Act 7:28 Apakah engkau bermaksud membunuh aku, sama seperti kemarin engkau membunuh orang Mesir itu?
Kesalahannya : Tanpa seijin Tuhan, membunuh, tindakannya emosional bukan rasional, tidak sesuai waktunya Tuhan
Tahukah Anda prilaku Manager "kodok" ?
Mereka adalah manager yang berjalan dengan menyikut kiri kanannya, seperti gaya kodok berjalan.
Mampu mengendalikan diri = aku menguasai lingkunganku bukan lingkunganku membuat aku seperti ini.
·Kendalikan emosi dan cara Anda bertindak. Ada 3 area; area tidak baik (saya kepala aparat keamanan, tidak menyelesaikan kemalingan karena tidak ada uang buat saya), area baik (saya calon gubernur, saya memberi sembako) dan area benar (saya hamba Tuhan, turun ke jalan-jalan untuk membantu penderitaan rakyat miskin, walau saya sudah nyaman untuk duduk diam di gereja, dia adalah Mother Theresa)
·Tujuan vs Cara.
Ada 4 dimensi; penolakan, antipati, manipulatif dan pengaruh
1. Jika tujuan Anda tidak baik dan caranya tidak baik maka Anda menuai penolakkan
2. Jika tujuan Anda baik dan caranya tidak baik maka Anda akan menuai antipati
3. Jika tujuan Anda tidak baik dan caranya baik maka Anda sedang manipulatif
4. Jika tujuan Anda baik dan caranya baik maka Anda menuai pengaruh
Ingat ! Leadership is about how to influence. Anda perlu membangun diri dengan bertindak untuk tujuan yang baik dan dengan cara yang baik pula.
2.Jadilah diri Anda dengan 3 K = Konsisten, Konsekuen dan Komitmen.
Konsisten = dapat dipercaya; apa yang kita katakan, kita lakukan.
Konsekuen = kerjakan hingga selesai.
Komitmen = lakukan yang terbaik yang Anda bisa.
3.Hidup dalam potensi penuh.
3 Rules hidup dalam potensi penuh :
a. Selalu terus belajar. Mereka terbuka terhadap masukan demi pertumbuhan pribadinya
b. Tekun. Mereka tidak seperti tentara Inggris yang kalah berperang dengan Turki, padahal asal mereka tetap menyerang Turki 1 menit lebih lama mereka akan menang. Karena tentara Turki sudah kehabisan amunisi dan sudah siap untuk mengangkat bendera menyerah.
c. Tidak cepat puas. Andaikata SBY cepat puas, maka dia tidak akan pernah menjadi Presiden. Cukup dengan pangkat Jendralnya, sungguh kebanggaan yang luar biasa baginya , anak Pacitan menjadi Jendral.
4.Bertumbuh.
Proses bertumbuh : This is my decision + Taka a step + Self Evaluation + Renewal (Ini keputusanku + Melangkah + Evaluasi diri + Pembaharuan )
Jumat, 12 Desember 2008
EXTRA EFFORT
Extra Effort artinya tindakan tambahan yang Anda lakukan bagi pelanggan Anda, dan tindakan itu sama sekali bukan kewajiban perusahaan Anda. Dalam arti, andai Anda tidak melakukannya pun Anda tidak akan dimaki-maki pelanggan.
Misalnya semalan saya komplain ke toko handphone dimana minggu lalu saya baru membelinya, namun saya tidak bisa menginstall aplikasinya ke lap top saya. Saya dianjurkan untuk langsung ke Samsung Centre yang tidak satu gedung dengan toko tersebut. Saya tidak bisa komplain dan memakinya, karena memang itu bukan kewajiban toko untuk menggaransi produk yang mereka jual, supplierlah yang menggaransi.
Lalu Extra Effort ini buat apa kalau begitu ?
Jika ceritanya lain, si penjaga toko itu membantu menelponkan ke Samsung Centre (biaya tidak mahal, karena tarif lokal), setidaknya memberitahukan keluhan saya dan membuat janji untuk saya. Tentu tindakan ini akan sangat membekas di hati saya. Besok-besok kalau saya butuh handphone dan accsesoriesnya tentu akan kembali ke toko tersebut, bahkan toko tersebut akan dengan sukarela saya jadikan rekomendasi bagi rekan-rekan saya.
Extra Effort sangat berguna memberikan pengalaman emosional bagi pelanggan kita.
Apakah pegawai kita sudah melakukan Extra Effort yang baik ?
Apa yang membedakan Careefour dan Hipermart ? Hampir sama...
Harga, fasilitas, alat pembayaran semua tidak beda. Andai pegawai Anda memberikan pembedaan di Extra Effort, maka perusahaan Anda akan membuat perbedaan.
Pernahkah Anda mencari-cari barang di Hipermarket ? Saya percaya tentu pernah, dan pernahkan Anda bertanya kepada salah seorang pegawai yang Anda temui untuk menemukan barang yang Anda cari ? Tentu saja pernah, bukan ?
Apa yang Anda alami: pegawainya hanya menunjuk dengan jari telunjuknya untuk mengarahkan Anda ke tempat barang yang Anda cari atau pegawai itu dengan mukanya tersenyum, antusias menemani Anda sampai menemukan dengan tepat barang yang Anda cari ?
Mungkin keduanya pernah Anda alami. Mana yang membekas di hati Anda, pegawai yang hanya menunjuk atau yang mengantar hingga menemukan yang Anda cari ?
Berikut 5 Rules for Extra Effort :
1. Extra Effort adalah tentang membangun relasi
2. Extra Effort dimotivasi dari ketulusan hati untuk melayani
3. Extra Effort dimulai dari cara pandang Owner dalam menganggap pelanggannya
4. Extra Effort harus dimasukkan dalam SOP (Standard operating & procedure)
5. Extra Effort patut disejajarkan dengan usaha inti perusahaan.
Beberapa tindakan yang termasuk Extra Effort :
1. Menelpon taxi, saat pelanggan Anda membutuhkan taxi untuk pulang
2. Memberikan free charge service yang tidak material
3. Menemani pelanggan yang mencari barang, seseorang dan ruangan
4. Free Parking (Anda yang membayar biaya parkirnya)
5. Bantu pelanggan untuk komplain garansinya ke supplier kita
6. Telpon satu atau dua minggu setelah pelanggan bertransaksi dengan kita, apakah ada keluhan dengan produk yang kita jual
Misalnya semalan saya komplain ke toko handphone dimana minggu lalu saya baru membelinya, namun saya tidak bisa menginstall aplikasinya ke lap top saya. Saya dianjurkan untuk langsung ke Samsung Centre yang tidak satu gedung dengan toko tersebut. Saya tidak bisa komplain dan memakinya, karena memang itu bukan kewajiban toko untuk menggaransi produk yang mereka jual, supplierlah yang menggaransi.
Lalu Extra Effort ini buat apa kalau begitu ?
Jika ceritanya lain, si penjaga toko itu membantu menelponkan ke Samsung Centre (biaya tidak mahal, karena tarif lokal), setidaknya memberitahukan keluhan saya dan membuat janji untuk saya. Tentu tindakan ini akan sangat membekas di hati saya. Besok-besok kalau saya butuh handphone dan accsesoriesnya tentu akan kembali ke toko tersebut, bahkan toko tersebut akan dengan sukarela saya jadikan rekomendasi bagi rekan-rekan saya.
Extra Effort sangat berguna memberikan pengalaman emosional bagi pelanggan kita.
Apakah pegawai kita sudah melakukan Extra Effort yang baik ?
Apa yang membedakan Careefour dan Hipermart ? Hampir sama...
Harga, fasilitas, alat pembayaran semua tidak beda. Andai pegawai Anda memberikan pembedaan di Extra Effort, maka perusahaan Anda akan membuat perbedaan.
Pernahkah Anda mencari-cari barang di Hipermarket ? Saya percaya tentu pernah, dan pernahkan Anda bertanya kepada salah seorang pegawai yang Anda temui untuk menemukan barang yang Anda cari ? Tentu saja pernah, bukan ?
Apa yang Anda alami: pegawainya hanya menunjuk dengan jari telunjuknya untuk mengarahkan Anda ke tempat barang yang Anda cari atau pegawai itu dengan mukanya tersenyum, antusias menemani Anda sampai menemukan dengan tepat barang yang Anda cari ?
Mungkin keduanya pernah Anda alami. Mana yang membekas di hati Anda, pegawai yang hanya menunjuk atau yang mengantar hingga menemukan yang Anda cari ?
Berikut 5 Rules for Extra Effort :
1. Extra Effort adalah tentang membangun relasi
2. Extra Effort dimotivasi dari ketulusan hati untuk melayani
3. Extra Effort dimulai dari cara pandang Owner dalam menganggap pelanggannya
4. Extra Effort harus dimasukkan dalam SOP (Standard operating & procedure)
5. Extra Effort patut disejajarkan dengan usaha inti perusahaan.
Beberapa tindakan yang termasuk Extra Effort :
1. Menelpon taxi, saat pelanggan Anda membutuhkan taxi untuk pulang
2. Memberikan free charge service yang tidak material
3. Menemani pelanggan yang mencari barang, seseorang dan ruangan
4. Free Parking (Anda yang membayar biaya parkirnya)
5. Bantu pelanggan untuk komplain garansinya ke supplier kita
6. Telpon satu atau dua minggu setelah pelanggan bertransaksi dengan kita, apakah ada keluhan dengan produk yang kita jual
Rabu, 10 Desember 2008
5 KESALAHAN BERBISNIS
Bisnis 2009 akan tidak lebih mudah, persaingan semakin ketat. Walau pertumbuhan bisnis tetap ada, saya perkirakan 5-6%, namun pertambahan kue bukannya menambah porsi kue per masing-masing pengusaha, bahkan sebaliknya. Hal ini diakibatkannya munculnya banyak pengusaha baru yang beradu nasib.
Persaingan akan dimenangkan oleh pengusaha yang kreatif, customer oriented, menjalankan managemen yang efektif, dan memiliki Sumber Daya Manusia yang solid.
Untuk menjadi pengusaha sepeti ini, Anda perlu menghindari 5 kesalahan berbisnis.
KESALAHAN Pertama, MENGABAIKAN CUSTOMER NEED. Pengusaha yang suka banting harga, dapat omzet dadakkan karena dapat harga beli murah dan jual murah, mereka akan dimakan oleh hukum pelanggan itu sendiri. Oleh karena edukasi customer yang sudah meningkat, tawaran fungsi produk/jasa yang sama sudah menjamur, dan perubahan lingkungan pelanggan, mereka semakin bijak untuk memilih perusahaan mana yang baik buat mereka untuk bertransaksi.
Tidak ada pilihan, bagi pengusaha saat ini untuk mau mendengar kebutuhan pelanggan Anda. Alihkan fokus Anda yang dulu lebih banyak bagaimana mendatangkan barang, dengan mengamati dan mendengar keinginan dari pelanggan Anda. Berilah benefit yang pas buat mereka.
KESALAHAN kedua, MENGABAIKAN MEMBANGUN SDM YANG SOLID. Old Rules : Business = Product. New Rules : Business = Product + Service. The Best Rule : Business = Product + Service + Human Resource. Bekali pegawai Anda dengan bekerja dengan hati, kreatifitas, pro aktif, antusias, dan kemampuan make a decision. Mereka adalah spoke person bagi perusahaan Anda, bukan Anda, tapi mereka. Zaman batu, agraris, industri, marketing, teknologi informasi sudah berlalu. Sekarang sudah tiba zaman Sumber Daya Manusia. Akhirnya semua akan bisa mengikuti produk/jasa yang kita jual, semua bisa mengikuti harga yang kita pasang, semua bisa menjalankan pemasaran yang kita buat, namun semua belum tentu bisa mengikuti persis dengan kualitas SDM yang kita miliki.
KESALAHAN ketiga, TIDAK MENGGUNAKAN MANAGEMEN BERBASIS KINERJA. Banyak pengusaha menjalankan bisnisnya berorientasi pada untung, bukan pada kinerja. Pengusaha yang berorientasi untung akan fokus pada sales, bagaimana produk/jasanya bisa dijual segera dan sebanyak-banyaknya. Jangan heran mereka akan membanting harga dan tidak peduli service after sales, hit and run jurus pamungkas mereka. Pengusaha yang berorientasi untung akan fokus pada pertumbuhan sales, bukan kinerja yang optimal. Asal penjualan sudah meningkat, mereka akan puas. Sebut saja tahun lalu hasil penjualan 12M, tahun ini 15M, mereka sudah puas. Padahal jika mau dianalisa, titik optimal yang bisa dicapai bisa jauh lebih dari 15M, jika perusahaan mau membangun managemen berbasis kinerja, seperti : peningkatan fungsi controlling, budgeting, feedback dan upgrading.
KESALAHAN keempat, MENGABAIKAN DIFERENSIASI. Perusahaan yang tidak melakukan diferensiasi sudah pasti mati, paling tidak setengah mati buat perusahaan yang dulunya berjaya. Banyak produk yang dulunya terkenal namun sekarang tinggal kenangan, sebut saja : Bodrex, Sugus, dan masih banyak lainnya. Bagaimana membangun diferensiasi ? Anda bisa mengevaluasi dan membangun perusahaan Anda dengan competitive Advantage (product, pricing, promotion, positioning, publicity, packaging, pass-along, permission, people dan peculiar) yang banyak. Kedua Anda bisa memaksimalkannya dengan membangun customer satisfaction driven (harga, kualitas pelayanan, kualitas produk/jasa, kemudahan mendapatkan,faktor emosional)di perusahaan Anda.
KESALAHAN kelima, Local Mindset. Bagaimana mungkin bangsa yang memiliki SDA dan SDM yang banyak tidak bisa menikmati kekayaan itu, malah negara lain yang bisa memanfaatkannya, sebut saja : Freeport. Semua bermula dari pengusaha yang berpikir lokal. Mereka hanya membangun kerajaan bisnis kota, provinsi paling top nasional. Sehingga tidak mengherankan pengusaha ini tidak memikirkan branding dan network. Berbeda dengan para entrepreneur US. Mereka sangat bervisi global. Anda akan menemui dengan mudah dimana saja Coca Cola, Mc Donald, Sturback, produk Disney, Shell, Microsoft, dan lain-lain. Pengusaha yang bermental dan berpikir global akan lebih mudah sukses dari pada yang lokal.
Persaingan akan dimenangkan oleh pengusaha yang kreatif, customer oriented, menjalankan managemen yang efektif, dan memiliki Sumber Daya Manusia yang solid.
Untuk menjadi pengusaha sepeti ini, Anda perlu menghindari 5 kesalahan berbisnis.
KESALAHAN Pertama, MENGABAIKAN CUSTOMER NEED. Pengusaha yang suka banting harga, dapat omzet dadakkan karena dapat harga beli murah dan jual murah, mereka akan dimakan oleh hukum pelanggan itu sendiri. Oleh karena edukasi customer yang sudah meningkat, tawaran fungsi produk/jasa yang sama sudah menjamur, dan perubahan lingkungan pelanggan, mereka semakin bijak untuk memilih perusahaan mana yang baik buat mereka untuk bertransaksi.
Tidak ada pilihan, bagi pengusaha saat ini untuk mau mendengar kebutuhan pelanggan Anda. Alihkan fokus Anda yang dulu lebih banyak bagaimana mendatangkan barang, dengan mengamati dan mendengar keinginan dari pelanggan Anda. Berilah benefit yang pas buat mereka.
KESALAHAN kedua, MENGABAIKAN MEMBANGUN SDM YANG SOLID. Old Rules : Business = Product. New Rules : Business = Product + Service. The Best Rule : Business = Product + Service + Human Resource. Bekali pegawai Anda dengan bekerja dengan hati, kreatifitas, pro aktif, antusias, dan kemampuan make a decision. Mereka adalah spoke person bagi perusahaan Anda, bukan Anda, tapi mereka. Zaman batu, agraris, industri, marketing, teknologi informasi sudah berlalu. Sekarang sudah tiba zaman Sumber Daya Manusia. Akhirnya semua akan bisa mengikuti produk/jasa yang kita jual, semua bisa mengikuti harga yang kita pasang, semua bisa menjalankan pemasaran yang kita buat, namun semua belum tentu bisa mengikuti persis dengan kualitas SDM yang kita miliki.
KESALAHAN ketiga, TIDAK MENGGUNAKAN MANAGEMEN BERBASIS KINERJA. Banyak pengusaha menjalankan bisnisnya berorientasi pada untung, bukan pada kinerja. Pengusaha yang berorientasi untung akan fokus pada sales, bagaimana produk/jasanya bisa dijual segera dan sebanyak-banyaknya. Jangan heran mereka akan membanting harga dan tidak peduli service after sales, hit and run jurus pamungkas mereka. Pengusaha yang berorientasi untung akan fokus pada pertumbuhan sales, bukan kinerja yang optimal. Asal penjualan sudah meningkat, mereka akan puas. Sebut saja tahun lalu hasil penjualan 12M, tahun ini 15M, mereka sudah puas. Padahal jika mau dianalisa, titik optimal yang bisa dicapai bisa jauh lebih dari 15M, jika perusahaan mau membangun managemen berbasis kinerja, seperti : peningkatan fungsi controlling, budgeting, feedback dan upgrading.
KESALAHAN keempat, MENGABAIKAN DIFERENSIASI. Perusahaan yang tidak melakukan diferensiasi sudah pasti mati, paling tidak setengah mati buat perusahaan yang dulunya berjaya. Banyak produk yang dulunya terkenal namun sekarang tinggal kenangan, sebut saja : Bodrex, Sugus, dan masih banyak lainnya. Bagaimana membangun diferensiasi ? Anda bisa mengevaluasi dan membangun perusahaan Anda dengan competitive Advantage (product, pricing, promotion, positioning, publicity, packaging, pass-along, permission, people dan peculiar) yang banyak. Kedua Anda bisa memaksimalkannya dengan membangun customer satisfaction driven (harga, kualitas pelayanan, kualitas produk/jasa, kemudahan mendapatkan,faktor emosional)di perusahaan Anda.
KESALAHAN kelima, Local Mindset. Bagaimana mungkin bangsa yang memiliki SDA dan SDM yang banyak tidak bisa menikmati kekayaan itu, malah negara lain yang bisa memanfaatkannya, sebut saja : Freeport. Semua bermula dari pengusaha yang berpikir lokal. Mereka hanya membangun kerajaan bisnis kota, provinsi paling top nasional. Sehingga tidak mengherankan pengusaha ini tidak memikirkan branding dan network. Berbeda dengan para entrepreneur US. Mereka sangat bervisi global. Anda akan menemui dengan mudah dimana saja Coca Cola, Mc Donald, Sturback, produk Disney, Shell, Microsoft, dan lain-lain. Pengusaha yang bermental dan berpikir global akan lebih mudah sukses dari pada yang lokal.
Langganan:
Postingan (Atom)