Minggu, 03 Juli 2011

Belajar dari Tony Blair

Tony Blair membaca Al Quran setiap hari. Hal ini dia lakukan untuk mendukung tugas perdamaian di Timur Tengah dari beberapa pihak. Pemimpin yang baik adalah yang inklusif. Pemimpin perlu paham kondisi dan pola pikir dari semua pihak, termasuk oposisi. Memahami dan mengukur kekuatan lawan adalah tindakan terus menerus yang harus dilakukan pemimpin bisnis. Gerak gerik lawan harus kita amati secara aktif. Hal tersebut sangat mendukung keberhasilan keputusan dan strategi yang Anda buat.

Amatilah dan ukurlah kekuatan competitor Anda.

The next customer

Dulu perusahaan yang berhasil adalah yang memiliki produk dengan harga murah dan modal besar. Tetapi kini perusahaan yang berhasil adalah yang memahami customer need. Anda tidak boleh hanya menyiapkan produk yang ingin dijual, tapi juga mematangkan bagaimana cara menjualnya. Oleh karena itu, Anda perlu paham kebutuhan customer saat ini dan yang akan datang.
The next customer membutuhkan kenyamanan, hiburan, kecepatan, kepeduliaan dan sesuatu yang baru. Cara Anda menjual adalah penentu (bukan lagi produk) keberhasilan bisnis Anda. Sesuaikanlah cara Anda menjual dengan the next customer need.
Pesawat air asia dan hotelnya berhasil karena cara menjualnya memenuhi the next customer need.

Sesuaikanlah cara menjual Anda dengan keinginan pelanggan masa kini dan yang akan datang.

Extraordinary product and service

Philips beralih dari menjual lampu ke menjual cahaya. Lighting can change much more than just lighting, demikianlah kampanye yang mereka buat menghadapi competitor yang menjual lampu. Philips menawarkan lampu yang memberikan cahaya berbeda dibandingkan dengan lampu konvensional.
Sebenarnya membuat produk dan pelayanan yang unik dan berbeda adalah keharusan, bukan setelah terdesak baru kita melakukannya. Entrepreneur adalah "pencipta" produk dan layanan yang luar biasa.
Blackberry adalah contoh produk selular yang tidak saja menjual alat komunikasi, tetapi komunitas dan internet. Iphone juga tidak saja menjual alat komunikasi tetapi juga hiburan.

Ciptakanlah produk dan pelayanan yang extraordinary.

The power of social media

Selama masa tenang pemilu di Thailand, pemerintah Thailand melarang berkampanye lewat sosial media. 100 polisi dikerahkan untuk mengawasi pelanggaran ini. Warga dilarang mengomentari calon dan partai yang ikut pemilu 3 Juli 2011 melalui situs media sosial, seperti Twitter dan Facebook.
Aturan baru, yang dibuat, karena kekuatan media sosial sudah begitu hebatnya. Tengok saja siapa dibalik penggerak reformasi di Timur Tengah, tak lain kekuatan media sosial.
Jika kita lihat trend peningkatan kepemilikan notebook di Indonesia, juga kemudahan orang mengakses internet melalui telpon seluler, maka perusahaan harus bergegas memanfaatkan media ini sebagai sarana komunikasi produk dan jasa yang dijual.
Sebagai contoh dunia perhotelan sangat merasakannya, kebanyakan reservasi dilakukan melalui internet, dan konsumen mengecek terlebih dulu barang yang akan dibelinya melalui internet.

Bangunlah komunikasi produk dan jasa bisnis Anda melaui media sosial dan internet.


Team Organisasi

Ada 5 tipe anggota tim yang harus ada di dalam sebuah bisnis:

1. Leader
Orang yang memberikan arahan perusahaan ke depan.

2. Manager
Orang yang mengelola perusahaan dalam operasional sehari-hari.

3. Eksekutor
Orang-orang yang melaksanakan semua rencana dan strategi perusahaan.

4. Assesor
Orang yang memonitor dan menilai setiap progress pencapaian individu dan perusahaan.

5. Auditor
Orang yang memeriksa apakah semua sudah berjalan sesuai dengan ketentuan seharusmya.

Bila perusahaan yang Anda pimpin belum memiliki 5 tipe tersebut di atas, segeralah lengkapi. Pastikan akan ada perubahan bagi bisnis Anda.

Selasa, 31 Maret 2009

KEGAGALAN PEMIMPIN PERUSAHAAN

Kegagalan perusahaan besar di Amerika, seperti General Motor dan AIG, bukanlah disebabkan karena ketimban sial krisis keuangan global yang sedang menimpa Amerika dan dunia. Jika benar mereka ketimban sial, seharusnya bukan mereka saja yang mengalaminya. Mengapa hanya beberapa perusahaan saja?
Seperti busuknya ikan dimulai dari kepala ikan, demikian juga dengan kebangkrutan atau pertumbuhan perusahaan yang menurun disebabkan oleh pemimpinnya. Saya percaya pemimpin perusahan besar ini adalah alumni-alumni universitas terkenal di dunia.
Lalu bagaimana mungkin para pemimpin yang hebat-hebat ini, seperti Wagoner, CEO GM, yang dipaksa mundur oleh Obama, adalah pegawai yang sudah berkarir 20 tahun di GM.
Berikut petikan berita dari Republika Online:
WASHINGTON -- CEO General Motors Rick Wagoner mundur setelah menghadapi tekanan dari pemerintahan Obama yang hari Minggu ini (Senin WIB) bersiap mengumumkan dana talangan kedua untuk perusahaan ini dan pesaingnya yang lebih kecil Chrysler LLC.

Wagoner, seorang eksekutif karir GM dan menjabat CEO sejak tahun 2000, mengundurkan diri setelah produsen otomotif itu berjuang menghadapi turunnya penjualan akibat resesi yang memaksa GM dan para pemasok serta dealer diambang bangkrut.

"Bagi mereka mengganti pimpinan di tengah jalan adalah hal yang tidak pernah dilakukan GM, namun kini (Presiden Barack) Obama atau (Menteri Keuangan Timothy) Geithner bisa berkata, kami meminta mereka berkorban," kata Aaron Bragman, analis pada IHS Global Insight.

Ekonom dari Universitas Maryland, Peter Morici, pengkritik utama Wagoner yang pernah meminta Wagoner mundur namun dia kini malah percaya bahwa Wagoner sedang memulai menata perusahaan. Morici kini menyebut pemerintah menghadapi "masalah humas" berkaitan dengan paket dana talangan untuk perusahaan-perusahaan itu.

"Mereka hanya menalangi pihak yang pamer dan merengek meminta dana. Rakyat semakin letih karenanya dan alih-alih melemparkan seorang bankir ke kumpulan serigala pemerintah malah membesarkan Wagoner menjadi serigala," kata Morici.

GM sendiri tidak mengeluarkan pernyataan apapun berkaitan pengunduran diri Wagoner, namun seorang pejabat Gedung Putih yang menolak menyebutkan nama menyatakan bahwa pengunduran diri Wagoner adalah permintaan dari pemerintahan Obama.

Pemerintah tidak mengeluarkan sepatah kata pun apakah pemerintah atau pihak lainnya mengetahui sejak kapan Wagoner mundur atau siapa yang menggantikannya.

Fritz Henderson, "Chief Operating Officer" GM, adalah orang nomor dua di GM dan diyakini banyak kalangan akan menggantikan Wagoner.

Minggu lalu Obama menyebutkan mismanajemen selama bertahun-tahun menjadi pemicu masalah keuangan hebat pada industri otomotif AS, sebuah tuduhan yang menyengat Wagoner karena bersama pimpinan Ford Motor Co Alan Mulally dan bos Chrysler Bob Nardelli, mereka relatif pendatang baru yang datang dari luar industri otomotif.

GM menderita rugi sekitar 82 miliar dolar AS sejak 2005 sampai kerusakan keuangan bertambah parah di masa ini. Nilai perusahaan ini amblas 95 persen sejak Wagoner menjabat CEO.

Wagoner sedang berada di Washington hari Jumat untuk bertemu dengan gugus tugas restrukturisasi otomotif yang ditunjuk DPR dan Obama akan menyampaikan rekomendasi gugus tugas ini hari Senin.

GM dan Chrysler telah meminta tambahan dana sebesar 22 miliar dolar AS kepada pemerintah untuk mengatasi melemahnya pasar kendaraan baru yang merupakan terendah dalam 30 tahun terakhir. Namun, Ford yang juga dilanda krisis tidak berupaya mencari bantuan pemerintah.

Minggu (Senin WIB) ini Obama menyatakan bahwa GM dan Chrysler tidak berbuat banyak untuk menyelamatkan diri mereka sendiri sejak menerima dana talangan 17,4 miliar dolar AS Desember lalu.

"Mereka belum berbuat," kata Obama dalam wawancara rekaman pada program berita CBS, "Face The Nation."

GM dan Chrysler telah memakai hampir semua dana talangan awal dan hampir bangkrut tanpa dana tambahan.

Chrysler yang harus bersaing dengan produsen mobil Italia Fiat SpA, menyatakan bahwa perusahaan ini memerlukan dana tambahan paling lambat Selasa ini untuk menghindari krisis likuiditas.

Namun kedua produsen otomotif ini belum menyelesaikan program efisiensi yang disyaratkan dalam paket dana talangan dari pemerintahan Bush yang bertenggat waktu 31 Maret untuk menentukan apakah kedua perusahaan itu perlu diselamatkan.

Para analis mengatakan keadaan ini menciptakan dilemma bagi Obama karena GM dan Chrysler mempekerjakan hampir 160 ribu warga AS dan membiarkan perusahaan otomotif tumbang akan mempersulit ekonomi AS terutama di daerah Midwest yang ekonominya masih diterkam resesi.

Obama menyatakan bahwa produsen otomotif mesti bekerja lebih banyak lagi untuk mendapatkan konsesi dari kreditor, buruh dan pihak lainnya.

"Kami kira kita bisa memiliki industri otomotif AS yang sukses. Tapi tampaknya hanya ada satu yang secara realistis bisa bertahan ditengah iklim seperti sekarang," kata Obama yang menekankan semua pihak untuk bersedia berkorban.

GM dan Chrysler memperoleh konsensi berupa kontrak pemutusan kerja dengan Serikat Pekerja Otomotif agar tingkat upah kedua perusahaan ini sejajar dengan produsen otomotif Jepang pimpinan Toyoto Motor Corp yang beroperasi di AS.

Namun kemudian GM dan Chrysler gagal memenuhi target dari pemerintah yang ditetapkan Desember. Target itu khususnya pembicaraan pengurangan utang di kedua perusahaan yang gagal menghasilkan kesepakatan apapun dalam enam minggu terakhir.

Lalu apa penyebab pemimpin gagal, hal ini pernah ditanyakan kepada Peter Druker. Lalu dijawab demikian: "Pemimpin gagal ketika melakukan apa yang ingin dilakukan, bukan melakukan apa yang perlu dilakukan."
Sebut saja Robby Djohan, mantan Pemimpin di Garuda Indonesia. Mulai dia masuk ke Garuda Indonesia, dia mengobrak abrik tatanan yang telah berakar lama, yang menjadikan penyebab kerugian terus menerus ditubuh salah satu perusahaan BUMN ini.
Berikut ini petikan resensi buku yang diambil dari Sinar Harapan:
Robby Djohan adalah seorang Chief Executive Officer (CEO) ”kelas dunia”. Ia dibesarkan oleh Citibank. Berkat didikan Citibank, Robby—begitu ia biasa dipanggil—menjadi orang Indonesia pertama yang mengenyam pendidikan Executive Development Program (EDP) Citibank. Ia dikenal sebagai seorang bankir yang benar-benar ”bertangan dingin”.
Dalam waktu kurang dari 5 tahun bekerja di Citibank, Robby dipercaya sebagai kepala salah satu dari empat kelompok usaha untuk menangani ”Group individual banking, Travel Cheques dan High net worth individuals”.
Apa rahasia kesuksesan Robby? Menurutnya, di Citibank, pendidikan dan pengembangan karir lebih penting daripada proses kerja. Citibank itu sangat dinamis. Hampir semua bidang terus berubah. Karyawan yang terlambat mengantisipasinya akan tertinggal.
Segala sesuatu disiapkan direncanakan sejak awal dan semua karyawan, termasuk para eksekutifnya terbuka terhadap perubahan dan siap melaksanakannya. Kondisi semacam ini sangat cocok dengan karakter Robby yang suka akan perubahan. Ia berprinsip bahwa perubahan merupakan inti dari manajemen dan kepemimpinan.
Kedudukan terakhir Robby mengawali kariernya pada 1967 di Citibank sebagai staf biasa di bagian umum. Puncak jabatannya sebagai eksekutif adalah menjadi kepala kelompok usaha untuk institusi-institusi keuangan pemerintah.
Delapan tahun malang melintang di Citibank membuatnya menguasai benar berbagai aspek pengelolaan bank. Kariernya pun sudah ”mentok” sehingga Citibank ditinggalkannya dalam usianya yang ke-38 tahun. Ia ingin mengembangkan kariernya di tempat lain.
Semangat Robby berkobar-kobar. Ia memandang dunia di luar Citibank dengan optimisme yang tinggi.
Cita-citanya ingin mengamalkan ilmu dan pengalamannya untuk mengembangkan bank nasional. Ketika meninggal Citibank di usia 38, Robby sebenarnya sedang menuju kematangan dalam karier profesionalnya.
Robby kemudian hijrah ke Bank Niaga. Bank milik pribumi yang kecil, tradisional, dan tidak terkenal itu dikembangkan Robby menjadi sebuah bank swasta nasional ”papan atas”.
Ketika kekuasaan Orde Baru di bawah kepemimpinan Soeharto sedang menuju kejatuhannya tahun 1998, melalui Tanri Abeng, Soeharto mempercayai Robby untuk menyelamatkan Garuda yang secara keuangan tengah bangkrut. Robby berhasil menghindari Garuda terperosok ke jurang kehancuran.
Keberhasilan di Garuda menghantarkan Robby ke tugas baru yang lebih berskala nasional, yaitu menggabungkan empat bank pemerintah—BBD, BDN, Bank Exim, dan Bapindo—menjadi Bank Mandiri seperti yang ada sekarang. Dalam usahanya menggabungkan keempat bank yang memiliki karakter dan budaya sangat berbeda, selain kentalnya birokrasi pemerintah di bank-bank ”plat merah” tersebut, watak kerja keras Robby sangat tampak.
Kalau IMF menargetkan restrukturisasi keempat bank itu dalam waktu dua tahun, Robby ternyata cuma membutuhkan waktu 6-7 bulan sehingga banyak orang tertegun melihat keberhasilannya.
Berikut ini, kiat-kiat bisnis yang dijalankan Robby. Pertama, misi dan budaya organisasi yang pragmatis. Dari pengalamannya sebagai CEO, menurut Robby, kalau organisasi serius mau mewujudkan sebuah pernyataan visi-misi, rumusan visi-misi itu harus pragmatis. Demikian juga budaya organisasinya harus berjalan seiring.
Karena itu kepada manajemen Garuda, Robby mencanangkan dan menitikberatkan, ”Sudahkah kita setiap hari menjadi lebih baik?” Inilah yang sekarang berkembang menjadi pernyataan misi Garuda: ”Kini Lebih Baik”. Lebih baik bagi semua—stakeholder mau pun karyawan, terlebih bagi para pelanggan.
Karena itu Garuda harus kompetitif dan mempunyai citra yang tinggi. Pemerintah sebagai stakeholder harus berkepentingan bahwa Garuda mampu beroperasi sesuai standar-standar bisnis yang berlaku dalam industri penerbangan, profitable, menjadi prasarana pengangkutan yang berguna. Para karyawan pun sebagai salah satu stakeholder, kepentingannya harus diakomodasi yakni kualitas hidupnya semakin hari semakin baik.
Kedua, pemimpin. Menurut Robby, tugas utama seorang pemimpin adalah memimpin. Ia tidak boleh terlalu melibatkan diri dalam proses operasional teknis, karena itu adalah tugas manajer.
Manajer adalah orang-orang yang terlibat dalam proses, memimpin orang-orang untuk melaksanakan pekerjaan guna mewujudkan keinginan pemimpin. Pemimpin adalah orang-orang yang melihat perubahan sebagai suatu potensi, memberi gagasan dan inspirasi, serta arah.
Sebagai seorang pemimpin yang baik, Robby lebih menyukai kerja efektif daripada kerja keras. Itu sebabnya, ketika memimpin Garuda Indonesia mau pun Bank Mandiri, Robby hanya memberikan arahan-arahan strategis dan menjamin bahwa apa yang menjadi arahan strategis itu dijalankan. Misalnya, beberapa persoalan utama seperti peningkatan citra, peningkatan kapasitas SDM, perbaikan kinerja keuangan, baik neraca maupun laporan rugi laba.
Ketiga, mendahulukan kepentingan perusahaan. Dalam hal ini, sebagai pemimpin menuru Robby, seseorang harus cepat dapat merumuskan segala persoalan, lalu bagaimana solusi harus dijalankan.
Keempat, kerjakan hari ini juga. Di Bank Niaga dikembangkan budaya antitunda. Kalau seorang manajer tidak setuju, ya ditolak. Tidak ada berkas yang ditinggalkan berlama-lama hingga bertumpuk-tumpuk. Tidak ada pekerjaan yang ditunda-tunda. Efek negatif dari penundaan adalah kemungkinan hilangnya kesempatan, biaya yang lebih tinggi, dan tertahannya proses kerja selanjutnya.
Kelima, mengambil keputusan. Mengambil keputusan itu menuntut keberanian yang tinggi. Misalnya soal memutuskan merger Bank Mandiri, apakah dilakukan dalam enam bulan atau dilaksanakan dalam dua tahun sesuai rencana pemerintah dan IMF.
Robby sebaga CEO berkeyakinan bahwa merger enam bulan adalah solusi terbaik karena untuk menangani bank yang merugi terus diperlukan centralized control yang baik.
Keenam, hidup dalam perubahan. Perubahan adalah sesuatu yang pasti terjadi. Karena itu siapa pun harus bisa menyesuaikan diri.
Bila tidak, seseorang akan kehilangan kesempatan untuk mendapatkan manfaat dari perubahan yang tengah terjadi. Misalnya, soal merger keempat bank pemerintah menjadi Bank Mandiri.
Ketujuh, tetapkan prioritas. Seorang pemimpin harus menentukan prioritas yang paling relevan. Sebab hidup ini penuh dengan keterbatasan. Tidak mungkin semua hal dikerjakan sekaligus.
Dalam kasus Garuda, misalnya, Robby membatasi permasalahan-permasalah yang menjadi problem utama sebagai prioritas.
Kedelapan, berorientasi pada pasar. Pasar itu dinamis dan terus berubah. Karena itu cara berpikir sebagai pengusaha harus bertumpu pada yang diinginkan pasar dengan memfokuskan diri pada hal yang bisa memberikan keuntungan besar dengan risiko yang relatif lebih kecil.
Selebihnya, Robby juga memberikan kiat untuk membangun kerjasama tim yang sinergis dan saluran komunikasi yang lancar bila ingin meraih kesuksesan yang besar dalam merestrukturisasi perusahaan.

Inilah pemimpin yang berhasil, mereka melakukan apa yang perlu dilakukan. GE dengan Jack Welch, IBM melalui Lou Gerstner, Xerox ditangan Anne Marie Dolan, Garuda Indonesia dipegang Robby Johan, Jamu Nyonya Meneer dengan Charles Saerang dan Grup Wing dibawah Freddy Katuary merupakan contoh dimana organisasi bisnis sukses menjalankan transformasi karena didukung penuh oleh para pemimpin mumpuni dan visioner.

Mengapa ada pemimpin yang tidak bisa melakukan apa yang perlu dilakukan? Hal ini banyak disebabkan oleh ketidakmauan pemimpin untuk mendengarkan dan bertanya.

BISNIS ADALAH MENGENAI KESEMPATAN

Berbisnis bisa dikatakan adu kejelian, siapa yang jeli melihat ceruk atau area putih di pasar yang belum digarap. Anda belum berbisnis dan bukan pebisnis jika tidak bisa melihat dan menggarap ceruk tersebut.
JCO adalah contoh baik, pebisnis yang mampu melihat dan memanfaatkan ceruk. Bagaimana tidak pada saat itu pemimpin pasar donut premium, "Dunkin Donut", melakukan penjualan donut secara tradisional. Beli dan Jual hanya itu yang dilakukan oleh Dunkin Donut. Mungkin terinspirasi oleh keberhasilan "Sturbuck", Johny Andrean, Pemilik JCO, ingin mengulangi keberhasilan "Sturbuck" melalui donut. Sama dengan Sturbuck, JCO bukan hanya menjual Donut, tapi menjual kenyamanan, tempat nongkrong sehabis lelah dalam bekerja. Tidak hanya itu, JCO memberikan kesan dan sesuatu yang baru mengenai bentuk dan rasa donut. Hal ini tidak dilakukan oleh Dunkin Donut.
Hukum Bisnis terjadi, JCO memenuhi ceruk, yaitu kebutuhan pasar yang belum terpenuhi, siapa yang memenuhi produknya akan diterima dan disukai pasar, demikian sebaliknya. Dunkin Donut sangat terasa mundur selangkah demi selangkah.
Kemampuan melihat ceruk berarti pebisnis sedang melihat kesempatan. Makna kesempatan bisnis kuno berarti bagaimana perusahaan merebut "kue" di pasar. Makna seperti ini sudah tidak mumpuni lagi bila diterapkan dengan kondisi saat ini. Makna kesempatan bisnis modern adalah bagaimana menciptakan pasar baru. Peter Drucker mengatakan: "kesempatan adalah hasil dari ciptaan." Bukan memperbaiki yang sudah ada, tapi menciptakan yang baru, yang sebelumnya belum ada.
Force Magic, memposisikan diri bukan sebagai perusahaan yang ingin merebut pasar obat pembasmi nyamuk, tapi mereka membuka pasar baru, pembasmi nyamuk dengan aroma yang wangi dan tidak merusak kesehatan saat menghirupnya.
Sekali lagi bisnis adalah kemampuan melihat kesempatan pada sebuah ceruk, disanalah tempat kebutuhan customer yang belum terpenuhi.

Sabtu, 20 Desember 2008

CARA MEMILIH SEGMENTASI PREMIUM ATAU SECOND LINE ?

Masakan yang hambar sama dengan perusahaan yang tidak jelas dalam penetapan segmentasi pasarnya: premium atau second line ? Akibatnya perusahaan seperti ini akan menjadi perusahaan yang umum, mudah ditemui, dan tidak maju. Perusahaan yang tidak jelas segmentasinya sama saja dengan orang yang tidak tahu jati dirinya sebenarnya.
Penetapan segmentasi ini menjadi penting, karena akan mempengaruhi bentuk bangunan yang kita miliki, interior, fasilitas pendukung, pemilihan instrumen promosi dan iklannya.
SISI POSITIF SECOND LINE
Dampak ekonomi dunia yang terus mengguras daya beli konsumen, mengakibatkan mereka memark-down produk atau jasa yang mereka butuhkan. Misal, dulu orang yang mempunyai daya beli membeli mobil kelas 300jtan ke atas memark-down dirinya untuk membeli mobil berkelas 150-200jtan. Mereka yang dulu punya uang pas-pasan untuk membeli mobil sekelas xenia dengan cicilan, memark-down dirinya dengan kendaraan motor roda dua. Porsi orang yang berani membayar mahal demi merk dan gengsi semakin kecil. Sebaliknya porsi orang yang rasional, dengan lebih mempertimbangkan fungsi dan harga dibandingkan merk dan gengsi semakin besar. Konsumen sudah semakin jeli dan tidak "grasa grusu" dalam memilih sebuah produk atau jasa. Mereka sangat teliti membandingkan produk antara personal image dengan benefit yang dia dapatkan.


SISI POSITIF PREMIUM LINE
Walau dampak ekonomi terus menghantam, sepertinya tiada berhenti, tetap saja orang kaya selalu ada di muka bumi ini. Apalagi dengan karakteristik konsumen Indonesia yang dikenal boros, konsumtif, prestise, dan berani. Perusahaan yang bermain di segmen ini akan mudah untuk mencari margin laba yang besar, karena pemain di segmen ini bisa dibilang langka, dan pemain di segmen ini adalah perusahaan yang sudah dewasa. Mereka lebih mengutamakan kualitas dan pelayanan dibandingkan dengan banting harga. Mereka lebih memfokuskan membangun network, seperti membentuk komunitas, dalam memasarkan produknya. Mereka juga sibuk bagaimana membangun kekhasan produk atau jasa yang dijual. Segmen ini masih sangat berpeluang di kota-kota besar, yang didukung banyaknya orang kaya dan turis bisnis maupun turis wisata.
KIAT MEMILIH SEGMEN YANG TEPAT BAGI PERUSAHAAN ANDA
1. Apakah produk atau jasa Anda saat ini memiliki kekhasan yang tinggi ?
2. Apakah produk atau jasa Anda saat ini memiliki pemimpin kualitas produk atau jasa
sejenis ?
3. Apakah perusahaan Anda saat ini sangat kuat brandingnya ?
4. Apakah Anda sebagi owner/founder mempunyai personal branding yang kuat ?
5. Apakah perusahaan Anda memiliki jaringan/network yang identik dengan orang
berduit?
6. Apakah di wilayah pasar Anda kompetitor sudah banyak bermain di Premium Line ?
7. Apakah perusahaan Anda sudah eksis lama ?
8. Apakah perusahaan Anda terbiasa dan benar-benar diakui positif karena mampu
memberikan sentuhan dan pengelaman yang emosional bagi pelanggan Anda ?
Jika jawaban Anda kebanyakaan "Ya", maka Anda bisa memasuki segmen Premium Line, jika "Tidak" adalah jawaban terbanyaknya, maka Anda sebaiknya masuk ke segmen Second Line.
Beberapa waktu lalu saya melihat siaran di TV Channel "Travel&Living" yang memberitakan kenikmatan yang diberikan salah satu Hotel yang saya lupa namanya di Manca Negara. Tapi yang saya ingat dan kagumi salah satu fasilitas Hotel tersebut adalah seekor anjing bagus dan jinak. Anjing itu memang ditawarkan oleh pihak hotel secara gratis untuk dibawa oleh tamu hotel keluar hotel. Sambil menikmati pemandangan di sekitar Hotel dan ditemani oleh anjing yang bagus, jinak, dan plus lucu.
Hotel ini sudah berhasil membangun Hotel bersegmen Premium Line. Dan Hotel tersebut sedang menuai hasil jerih lelahnya. Bagaimana dengan Anda ?

Senin, 15 Desember 2008

CARA PROMO DAN IKLAN YANG EFEKTIF

Ada beberapa hal perlu disadari para marketer saat menggelontorkan sebuah promo dan iklan, yakni :
1. Apakah promo dan iklan tersebut meningkatkan branding
2. Apakah promo dan iklan tersebut sesuai dengan tujuannya
(meningkatkan sales or marketing)
3. Apakah promo dan iklan tersebut kreatif, sehingga menjadi pusat
perhatian ditengah hiruk pikuk promo dan iklan yang lain
4. Apakah promo dan iklan tersebut menggunakan media yang tepat, jika
dihubungkan dengan target pasar yang ingin kita raih
5. Apakah promo dan iklan tersebut sesuai dengan fase pertumbuhan
bisnis perusahaan

Kelima hal di atas, jika Anda gagal, sama saja Anda membuang belanja promo dan iklan perusahaan dengan percuma. Diperkirakan belanja iklan di tahun 2007 lebih tinggi 5 Triliun dibanding tahun 2006 sebesar 30 Triliun, naik 17%. Belanja iklan perusahaan seperti Pertamina saja sebesar 20-30 Milyar. Dan saya percaya kita semua mengamini jika hampir semua perusahaan biaya promosi dan iklannya termasuk biaya terbesar jika dibandingkan biaya lainnya, kecuali Harga Pokok Penjualan.
Kita akan fokus membicarakan hubungan fase pertumbuhan bisnis dengan strategi promo dan iklan yang tepat.
Sebuah perusahaan tentu akan mengalami siklus sebagai berikut :

BIRTH ---> GROWTH ---> MATURITY ---> DECLINE ---> DEATH

Saat perusahaan Anda pada fase BIRTH, maka :
Do :
1. Promo dan iklan yang mengedukasi
2. Promo dan iklan yang secara massal
3. Promo dan iklan yang sensasional
Don't :
1. Promo dan iklan yang berguna untuk branding
2. Promo dan iklan yang membandingkan (comparative ad.)
3. Promo dan iklan bertujuan untuk customer loyalty dan emosional

Saat perusahaan Anda pada fase GROWTH, maka :
Do :
1. Promo dan iklan yang menciptakan customer loyalty
2. Promo dan iklan yang mulai membangun brand image
3. Promo dan iklan yang mengedukasi
3. Promo dan iklan yang sedikit sensasional
Don't :
1. Promo dan iklan yang secara massal
2. Promo dan iklan yang membandingkan (comparative ad.)

Saat perusahaan Anda pada fase MATURITY, maka :
Do :
1. Promo dan iklan yang memperkuat brand image
2. Promo dan iklan yang lebih elegan
3. Promo dan iklan yang membandingkan (comparative ad.)
4. Promo dan iklan yang memberikan sentuhan emosional
Don't :
1. Promo dan iklan yang secara massal
2. Promo dan iklan yang mengedukasi

Saat perusahaan Anda pada fase DECLINE, maka :
Do :
1. Promo dan iklan yang menjelaskan inovasi produk
2. Promo dan iklan yang massal
3. Promo dan iklan yang sensasional
Don't :
1. Promo dan iklan yang membandingkan (comparative ad.)
2. Promo dan iklan yang menonjolkan branding

Saat perusahaan Anda pada fase DEATH, maka :
Do :
Sama dengan fase BIRTH + DECLINE
Don't :
Sama dengan fase BIRTH + DECLINE

Iklan Force Magic bisa menjadi contoh bisnis pada fase BIRTH, terlihat iklan tersebut mengedukasi pasar untuk memilih obat nyamuk yang baik buat kesehatan.
Promo dan iklan Mie Sedap bisa menjadi contoh bisnis fase GROWTH, yang kental dengan nuansa membangun brand image mie bungkus dengan memasang iconnya Titi Kamal.

Sabtu, 13 Desember 2008

4 LANGKAH KEPEMIMPINAN DIRI/4 STEPS FOR SELF LEADERSHIP

Menjadi pemimpin haruslah mereka yang bisa mengurusi keluarga. Namun ingin menjadi pemimpin besar haruslah mereka yang bisa memimpin dirinya sendiri.
Syarat kepemimpinan diri :
1.Mampu mengendalikan diri
·Kesalahan Musa ;
Act 7:20 Pada waktu itulah Musa lahir dan ia elok di mata Allah. Tiga bulan lamanya ia diasuh di rumah ayahnya.
Act 7:21 Lalu ia dibuang, tetapi puteri Firaun memungutnya dan menyuruh mengasuhnya seperti anaknya sendiri.
Act 7:22 Dan Musa dididik dalam segala hikmat orang Mesir, dan ia berkuasa dalam perkataan dan perbuatannya.
Act 7:23 Pada waktu ia berumur empat puluh tahun, timbullah keinginan dalam hatinya untuk mengunjungi saudara-saudaranya, yaitu orang-orang Israel.
Act 7:24 Ketika itu ia melihat seorang dianiaya oleh seorang Mesir, lalu ia menolong dan membela orang itu dengan membunuh orang Mesir itu.
Act 7:25 Pada sangkanya saudara-saudaranya akan mengerti, bahwa Allah memakai dia untuk menyelamatkan mereka, tetapi mereka tidak mengerti.
Act 7:26 Pada keesokan harinya ia muncul pula ketika dua orang Israel sedang berkelahi, lalu ia berusaha mendamaikan mereka, katanya: Saudara-saudara! Bukankah kamu ini bersaudara? Mengapakah kamu saling menganiaya?
Act 7:27 Tetapi orang yang berbuat salah kepada temannya itu menolak Musa dan berkata: Siapakah yang mengangkat engkau menjadi pemimpin dan hakim atas kami?
Act 7:28 Apakah engkau bermaksud membunuh aku, sama seperti kemarin engkau membunuh orang Mesir itu?

Kesalahannya : Tanpa seijin Tuhan, membunuh, tindakannya emosional bukan rasional, tidak sesuai waktunya Tuhan
Tahukah Anda prilaku Manager "kodok" ?

Mereka adalah manager yang berjalan dengan menyikut kiri kanannya, seperti gaya kodok berjalan.
Mampu mengendalikan diri = aku menguasai lingkunganku bukan lingkunganku membuat aku seperti ini.
·Kendalikan emosi dan cara Anda bertindak. Ada 3 area; area tidak baik (saya kepala aparat keamanan, tidak menyelesaikan kemalingan karena tidak ada uang buat saya), area baik (saya calon gubernur, saya memberi sembako) dan area benar (saya hamba Tuhan, turun ke jalan-jalan untuk membantu penderitaan rakyat miskin, walau saya sudah nyaman untuk duduk diam di gereja, dia adalah Mother Theresa)

·Tujuan vs Cara.
Ada 4 dimensi; penolakan, antipati, manipulatif dan pengaruh
1. Jika tujuan Anda tidak baik dan caranya tidak baik maka Anda menuai penolakkan
2. Jika tujuan Anda baik dan caranya tidak baik maka Anda akan menuai antipati
3. Jika tujuan Anda tidak baik dan caranya baik maka Anda sedang manipulatif
4. Jika tujuan Anda baik dan caranya baik maka Anda menuai pengaruh
Ingat ! Leadership is about how to influence. Anda perlu membangun diri dengan bertindak untuk tujuan yang baik dan dengan cara yang baik pula.

2.Jadilah diri Anda dengan 3 K = Konsisten, Konsekuen dan Komitmen.
Konsisten = dapat dipercaya; apa yang kita katakan, kita lakukan.
Konsekuen = kerjakan hingga selesai.
Komitmen = lakukan yang terbaik yang Anda bisa.

3.Hidup dalam potensi penuh.
3 Rules hidup dalam potensi penuh :
a. Selalu terus belajar. Mereka terbuka terhadap masukan demi pertumbuhan pribadinya
b. Tekun. Mereka tidak seperti tentara Inggris yang kalah berperang dengan Turki, padahal asal mereka tetap menyerang Turki 1 menit lebih lama mereka akan menang. Karena tentara Turki sudah kehabisan amunisi dan sudah siap untuk mengangkat bendera menyerah.
c. Tidak cepat puas. Andaikata SBY cepat puas, maka dia tidak akan pernah menjadi Presiden. Cukup dengan pangkat Jendralnya, sungguh kebanggaan yang luar biasa baginya , anak Pacitan menjadi Jendral.

4.Bertumbuh.
Proses bertumbuh : This is my decision + Taka a step + Self Evaluation + Renewal (Ini keputusanku + Melangkah + Evaluasi diri + Pembaharuan )

Jumat, 12 Desember 2008

EXTRA EFFORT

Extra Effort artinya tindakan tambahan yang Anda lakukan bagi pelanggan Anda, dan tindakan itu sama sekali bukan kewajiban perusahaan Anda. Dalam arti, andai Anda tidak melakukannya pun Anda tidak akan dimaki-maki pelanggan.
Misalnya semalan saya komplain ke toko handphone dimana minggu lalu saya baru membelinya, namun saya tidak bisa menginstall aplikasinya ke lap top saya. Saya dianjurkan untuk langsung ke Samsung Centre yang tidak satu gedung dengan toko tersebut. Saya tidak bisa komplain dan memakinya, karena memang itu bukan kewajiban toko untuk menggaransi produk yang mereka jual, supplierlah yang menggaransi.
Lalu Extra Effort ini buat apa kalau begitu ?

Jika ceritanya lain, si penjaga toko itu membantu menelponkan ke Samsung Centre (biaya tidak mahal, karena tarif lokal), setidaknya memberitahukan keluhan saya dan membuat janji untuk saya. Tentu tindakan ini akan sangat membekas di hati saya. Besok-besok kalau saya butuh handphone dan accsesoriesnya tentu akan kembali ke toko tersebut, bahkan toko tersebut akan dengan sukarela saya jadikan rekomendasi bagi rekan-rekan saya.
Extra Effort sangat berguna memberikan pengalaman emosional bagi pelanggan kita.
Apakah pegawai kita sudah melakukan Extra Effort yang baik ?
Apa yang membedakan Careefour dan Hipermart ? Hampir sama...
Harga, fasilitas, alat pembayaran semua tidak beda. Andai pegawai Anda memberikan pembedaan di Extra Effort, maka perusahaan Anda akan membuat perbedaan.
Pernahkah Anda mencari-cari barang di Hipermarket ? Saya percaya tentu pernah, dan pernahkan Anda bertanya kepada salah seorang pegawai yang Anda temui untuk menemukan barang yang Anda cari ? Tentu saja pernah, bukan ?
Apa yang Anda alami: pegawainya hanya menunjuk dengan jari telunjuknya untuk mengarahkan Anda ke tempat barang yang Anda cari atau pegawai itu dengan mukanya tersenyum, antusias menemani Anda sampai menemukan dengan tepat barang yang Anda cari ?
Mungkin keduanya pernah Anda alami. Mana yang membekas di hati Anda, pegawai yang hanya menunjuk atau yang mengantar hingga menemukan yang Anda cari ?
Berikut 5 Rules for Extra Effort :
1. Extra Effort adalah tentang membangun relasi
2. Extra Effort dimotivasi dari ketulusan hati untuk melayani
3. Extra Effort dimulai dari cara pandang Owner dalam menganggap pelanggannya
4. Extra Effort harus dimasukkan dalam SOP (Standard operating & procedure)
5. Extra Effort patut disejajarkan dengan usaha inti perusahaan.
Beberapa tindakan yang termasuk Extra Effort :
1. Menelpon taxi, saat pelanggan Anda membutuhkan taxi untuk pulang
2. Memberikan free charge service yang tidak material
3. Menemani pelanggan yang mencari barang, seseorang dan ruangan
4. Free Parking (Anda yang membayar biaya parkirnya)
5. Bantu pelanggan untuk komplain garansinya ke supplier kita
6. Telpon satu atau dua minggu setelah pelanggan bertransaksi dengan kita, apakah ada keluhan dengan produk yang kita jual

Rabu, 10 Desember 2008

5 KESALAHAN BERBISNIS

Bisnis 2009 akan tidak lebih mudah, persaingan semakin ketat. Walau pertumbuhan bisnis tetap ada, saya perkirakan 5-6%, namun pertambahan kue bukannya menambah porsi kue per masing-masing pengusaha, bahkan sebaliknya. Hal ini diakibatkannya munculnya banyak pengusaha baru yang beradu nasib.
Persaingan akan dimenangkan oleh pengusaha yang kreatif, customer oriented, menjalankan managemen yang efektif, dan memiliki Sumber Daya Manusia yang solid.
Untuk menjadi pengusaha sepeti ini, Anda perlu menghindari 5 kesalahan berbisnis.

KESALAHAN Pertama, MENGABAIKAN CUSTOMER NEED. Pengusaha yang suka banting harga, dapat omzet dadakkan karena dapat harga beli murah dan jual murah, mereka akan dimakan oleh hukum pelanggan itu sendiri. Oleh karena edukasi customer yang sudah meningkat, tawaran fungsi produk/jasa yang sama sudah menjamur, dan perubahan lingkungan pelanggan, mereka semakin bijak untuk memilih perusahaan mana yang baik buat mereka untuk bertransaksi.
Tidak ada pilihan, bagi pengusaha saat ini untuk mau mendengar kebutuhan pelanggan Anda. Alihkan fokus Anda yang dulu lebih banyak bagaimana mendatangkan barang, dengan mengamati dan mendengar keinginan dari pelanggan Anda. Berilah benefit yang pas buat mereka.
KESALAHAN kedua, MENGABAIKAN MEMBANGUN SDM YANG SOLID. Old Rules : Business = Product. New Rules : Business = Product + Service. The Best Rule : Business = Product + Service + Human Resource. Bekali pegawai Anda dengan bekerja dengan hati, kreatifitas, pro aktif, antusias, dan kemampuan make a decision. Mereka adalah spoke person bagi perusahaan Anda, bukan Anda, tapi mereka. Zaman batu, agraris, industri, marketing, teknologi informasi sudah berlalu. Sekarang sudah tiba zaman Sumber Daya Manusia. Akhirnya semua akan bisa mengikuti produk/jasa yang kita jual, semua bisa mengikuti harga yang kita pasang, semua bisa menjalankan pemasaran yang kita buat, namun semua belum tentu bisa mengikuti persis dengan kualitas SDM yang kita miliki.
KESALAHAN ketiga, TIDAK MENGGUNAKAN MANAGEMEN BERBASIS KINERJA. Banyak pengusaha menjalankan bisnisnya berorientasi pada untung, bukan pada kinerja. Pengusaha yang berorientasi untung akan fokus pada sales, bagaimana produk/jasanya bisa dijual segera dan sebanyak-banyaknya. Jangan heran mereka akan membanting harga dan tidak peduli service after sales, hit and run jurus pamungkas mereka. Pengusaha yang berorientasi untung akan fokus pada pertumbuhan sales, bukan kinerja yang optimal. Asal penjualan sudah meningkat, mereka akan puas. Sebut saja tahun lalu hasil penjualan 12M, tahun ini 15M, mereka sudah puas. Padahal jika mau dianalisa, titik optimal yang bisa dicapai bisa jauh lebih dari 15M, jika perusahaan mau membangun managemen berbasis kinerja, seperti : peningkatan fungsi controlling, budgeting, feedback dan upgrading.
KESALAHAN keempat, MENGABAIKAN DIFERENSIASI. Perusahaan yang tidak melakukan diferensiasi sudah pasti mati, paling tidak setengah mati buat perusahaan yang dulunya berjaya. Banyak produk yang dulunya terkenal namun sekarang tinggal kenangan, sebut saja : Bodrex, Sugus, dan masih banyak lainnya. Bagaimana membangun diferensiasi ? Anda bisa mengevaluasi dan membangun perusahaan Anda dengan competitive Advantage (product, pricing, promotion, positioning, publicity, packaging, pass-along, permission, people dan peculiar) yang banyak. Kedua Anda bisa memaksimalkannya dengan membangun customer satisfaction driven (harga, kualitas pelayanan, kualitas produk/jasa, kemudahan mendapatkan,faktor emosional)di perusahaan Anda.
KESALAHAN kelima, Local Mindset. Bagaimana mungkin bangsa yang memiliki SDA dan SDM yang banyak tidak bisa menikmati kekayaan itu, malah negara lain yang bisa memanfaatkannya, sebut saja : Freeport. Semua bermula dari pengusaha yang berpikir lokal. Mereka hanya membangun kerajaan bisnis kota, provinsi paling top nasional. Sehingga tidak mengherankan pengusaha ini tidak memikirkan branding dan network. Berbeda dengan para entrepreneur US. Mereka sangat bervisi global. Anda akan menemui dengan mudah dimana saja Coca Cola, Mc Donald, Sturback, produk Disney, Shell, Microsoft, dan lain-lain. Pengusaha yang bermental dan berpikir global akan lebih mudah sukses dari pada yang lokal.

Kamis, 27 November 2008

KEPEMIMPINAN YANG MENTRANSFORMASI

Siapakah pemimpin?
Kepemimpinan adalah topik yang menarik dan tidak habis untuk dibicarakan. Ada jutaan artikel yang dengan mudah kita temukan di internet yang membicarakan tentang kepemimpinan. Pemimpin yang kasat mata di kehidupan kita sehari-hari, andaikan kita di sebuah organisasi bisnis, pemimpinnya adalah direktur kita , manajer kita, kepala bagian kita. Jika di sekolah, pemimpin adalah kepala sekolah, wakil kepala sekolah, dan mungkin ada koordinator-koordinator bidang tertentu. Merekalah yang disebut pemimpin. Bukti mereka dianggap pemimpin adalah bonus tunjungan jabatan yang mereka terima setiap bulannya. Bagaimana dengan di rumah, adakah juga pemimpin ? Pandangan pada umumnya menempatkan pria/suami/ayah sebagai pemimpin keluarga.

Bagaimana kita bisa menetapkan dengan benar, dia adalah pemimpin dan dia bukan ?
Jika pemimpin adalah seperti yang dijelaskan di atas, maka minimal ada tiga konsekuensi :
1.Jika anda dilahirkan wanita, maka anda tidak akan pernah menjadi pemimpin di keluarga
2.Jika anda tidak pernah menjabat kepala/manajer di perusahaan anda bekerja, maka anda tidak pernah menjadi pemimpin
3.Jika mau menjadi pemimpin, caranya anda harus mengejar jabatan

Belum lagi kalau kita bicarakan perusahaan keluarga yang memiliki warisan yang besar dan diwariskan ke anak-anaknya. Maka secara otomatis, mereka akan menjadi pemimpin. Begitu juga dengan beberapa kerajaan yang masih ada di Indonesia, pewaris tahta adalah pemimpin berikutnya. Dengan demikian pemimpin adalah hubungan darah daging, demikiankah ?
Beberapa minggu lalu saat makalah ini ditulis, kita dihebohkan dengan gonjang ganjing krisis global yang dimulai dari kebangkrutan korporasi Amerika Serikat. Di harian utama Kompas, dikupas perkiraan alasan kebangkrutan beberapa korporasi Amerika Serikat dikarenakan prilaku CEO korporasi tersebut. Mulai dari ketamakkan akan keuntungan yang besar, hingga membuat keputusan investasi yang agresif. Juga gaya hidup CEO nya yang boros, walau perusahaannya di ujung tanduk, mereka masih bisa mengadakan meeting dengan fasilitas mewah dan lengkap. Serta sistem bonus yang tidak mendewasakan mereka, membuat para CEO gelap mata. Mereka mewakili pemimpin secara struktural, namu benarkah mereka pemimpin yang sesungguhnya ?
Istilah pemimpin sudah muncul sejak 5000 tahun sebelum Masehi, antara lain di Mesir. Di Cina, sekitar tahun 600 sebelum Masehi, orang juga sudah membahas masalah kepemimpinan. Di budaya Barat, orang-orang Yunani juga meninggalkan berbagai pemahaman mereka tentang kepemimpinan. Misalnya, Homer menuliskan pandangannya mengenai kualitas pemimpin yang perlu dimiliki. Di jaman modern, sampai pada tahun 2000 saja telah terbit lebih dari 2000 judul buku mengenai kepemimpinan.
Berikut ini saya mendaftarkan beberapa definisi tentang kepemimpinan :
·“Leadership is a relationship between those who aspire to lead and those who choose to follow”. (Kouzes & Posner, 2002).
·“Leadership is a process whereby an individual influences a group of individuals to achieve a common goal”. (Northouse, 2004)
·“Leadership is the influencing process of leaders and followers to achieve organizational objectives through changes”. (Lussier & Achua, 2004)
·“Leadership is the behavior of an individual… directing the activities of a group toward a shared goal”. (Hemphill & Coons, 1957)
·“Leadership is the influential increment over and above mechanical compliance with the routine directives of the organization” (D.Katz & Kahn, 1978)
·“Leadership is the process of incluencing the activities of an organized group toward goal achievement” (Rauch & Behling, 1984)
·“Leadership is a process of giving purpose (meaningful direction) to collective effort, and causing willing effort to be expended to achieve purpose” (Jacobs & Jacques, 1990)
·“Leadership is the ability to step outside the culture… to start evolutionary change processes that are more adaptive” (E.H. Schein, 1992)
·“Leadership is the process of making sense of what people are doing together so that people will understand and be committed” (Drath & Palus, 1994)
·“Leadership is about articulating visions, embodying values, and creating the environment within which things can be accomplished” (Richards & Engle, 1986)
·“Leadershipo is the ability of an individual to influence, motivate, and enable others to contribute toward the effectiveness and success of the organization…” (House et al., 1999)
·“Leadership is the ability of developing and communicating a vision to a group of people that will make that vision true” (Kenneth Valenzuela, 2007)
Dari definisi di atas, maka seseorang yang memiliki jabatan maupun warisan jabatan belum tentu bisa disebut pemimpin, walau secara struktur dia adalah pemimpin. Begitu juga sebaliknya mereka yang tidak memiliki jabatan secara struktural, belum tentu tidak bisa kita sebut pemimpin. Pria dalam hal ini seorang suami dan ayah tidak langsung bisa ditetapkan sebagai pemimpin, begitu sebaliknya dengan ibu atau anaknya tidak bisa kita katakan bukan pemimpin dalam sebuah keluarga.
Sebenarnya apa syarat utama saya bisa menjadi pemimpin ? Kalau begitu, apa syarat atau ciri utama seseorang bisa dikatakan pemimpin. Dari definisi diatas, ada beberapa kata kunci yang digaris miring serta ditebalkan, yang saya gabungkan menjadi kalimat berikut ini : Pemimpin adalah seseorang yang bisa mempengaruhi orang lain, untuk membawa mereka bersama-sama hingga mencapai visi yang ditetapkan. Jadi mereka haruslah memiliki kemampuan : (1) Mempengaruhi orang lain, (2) serta bisa menetapkan visi bersama, dan (3) mampu membawa orang lain untuk merealisasikan visi tersebut. Dr Yakob Tomatala dalam bukunya “Kepemimpinan Kristen” menjelaskan secara detail, apa saja kualitas yang harus dimiliki seorang pemimpin. Menurut beliau, dalam diri seorang pemimpin harus ada keyakinan terhadap apa yang sedang ia lakukannya, sasaran yang ingin diraihnya, alasan-alasan yang mendukungnya, yang melampaui pribadinya. Ia bahkan bersedia mengorbankan dirinya untuk menyelesaikan tugasnya. Ini membutuhkan keberanian. Bertahan walaupun menghadapi berbagai rintangan yang nyata, membuat keputusan dengan informasi yang tidak memadai, mempertaruhkan reputasi dan kesejahteraan materi, membutuhkan keberanian yang didasarkan pada keyakinan. Sebagian besar dari keberanian ini akan menampakkan dirinya dalam ketegasan mengambil keputusan. Kepemimpinan membutuhkan kemampuan persuasif. Yang menarik, hampir ada kesepakatan yang universal bahwa para pemimpin yang paling menonjol mempunyai kerendahan hati yang membuat mereka bersedia menerima tanggung jawab atas kegagalan dan juga keberhasilan. Tetapi bagi sebagian besar situasi kepemimpinan, harus ada kecakapan; orang tersebut harus mempunyai kecakapan dalam bidang yang sedang dikerjakannya. Dan beliau menambahkan, kepemimpinan tidak harus memiliki karisma yang hebat, pribadi yang hangat dan ramah. Tentu masing-masing pemimpin memiliki gaya kepemimpinan yang berbeda-beda. Ada 3 besar gaya kepemimpinan di sekitar kita :
1.Gaya Kepemimpinan Demokratis
Kepemimpinan demokratis menempatkan manusia sebagai faktor utama dan terpenting dalam setiap kelompok/organisasi. Gaya kepemimpinan demokratis diwujudkan dengan dominasi perilaku sebagai pelindung dan penyelamat dan perilaku yang cenderung memajukan dan mengembangkan organisasi/kelompok.
2.Gaya Kepemimpinan Otoriter
Kepemimpinan otoriter merupakan gaya kepemimpinan yang paling tua dikenal manusia. Oleh karena itu gaya kepemimpinan ini menempatkan kekuasaan di tangan satu orang atau sekelompok kecil orang yang di antara mereka tetap ada seorang yang paling berkuasa. Pemimpin bertindak sebagai penguasa tunggal.
3.Gaya Kepemimpinan Bebas dan Pelengkap
Kepemimpinan Bebas merupakan kebalikan dari tipe atau gaya kepemimpinan otoriter. Dilihat dari segi perilaku ternyata gaya kepemimpinan ini cenderung didominasi oleh perilaku kepemimpinan kompromi (compromiser) dan perilaku kepemimpinan pembelot (deserter).
Macam-macam teori kepemimpinan
Genetic Theory
Pemimpin adalah dilahirkan dengan membawa sifat-sifat kepemimpinan dan tidak perlu belajar lagi. Sifat utama seorang pemimpin diperoleh secara genetik dari orang tuanya.
Traits theory
Teori ini menyatakan bahwa efektivitas kepemimpinan tergantung pada karakter pemimpinnya. Sifat-sifat yang dimiliki antara lain kepribadian, keunggulan fisik, dan kemampuan sosial. Karakter yang harus dimiliki seseorang manurut judith R. Gordon mencakup kemampuan istimewa dalam:
- Kemampuan Intelektual
- Kematangan Pribadi
- Pendidikan
- Status Sosial Ekonomi
- Human Relation
- Motivasi Intrinsik
- Dorongan untuk maju
Ronggowarsito menyebutkan seorang pemimpin harus memiliki astabrata, yakni delapan sifat unggul yang dikaitkan dengan sifat alam seperti tanah, api, angin, angkasa, bulan, matahari, bintang.
Behavioral Theory
Karena keterbatasan peramalan efektivitas kepemimpinan melalui trait, para peneliti mulai mengembangkan pemikiran untuk meneliti perilaku pemimpin sebagai cara untuk meningkatkan efektivitas kepemimpinan. Konsepnya beralih dari siapa yang memiliki memimpin ke bagaimana perilaku seorang untuk memimpin secara efektif.
a. Authoritarian, Democratic & Laissez Faire
Penelitian ini dilakukan oleh Lewin, White & Lippit pada tahun 1930 an. Mereka mengemukakan 3 tipe perilaku pemimpin, yaitu authoritarian yang menerapkan kepemimpinan otoriter, democratic yang mengikut sertakan bawahannya dan Laissez - Faire yang menyerahkan kekuasaannya pada bawahannya.
b. Continuum of Leadership behavior.
Robert Tannenbaum dan Warren H Schmidt memperkenalkan continnum of leadership yang menjelaskan pembagian kekuasaan pemimpin dan bawahannya. Continuum membagi 7 daerah mulai dari otoriter sd laissez - faire dengan titik dengan demokratis.
c. Teori Employee Oriented and Task Oriented Leadership - Leadership style matrix.
Konsep ini membahas dua orientasi kepemimpinan yaitu
- Kepemimpinan yang berorientasi pada pekerjaan dimana perilaku pemimpinnya dalam penyelesaiannya tugasnya memberikan tugas, mengatur pelaksanaan, mengawasi dan mengevaluasi kinerja bawahan sebagai hasil pelaksanaan tugas.
- Kepemimpinan yang berorientasi pada pegawai akan ditandai dengan perilaku pemimpinnya yang memandang penting hubungan baik dan manusiawi dengan bawahannya.
Pembahasan model ini dikembangkan oleh ahli psikologi industri dari Ohio State University dan Universitas of Michigan. Kelompok Ohio mengungkapkan dua dimensi kepemimpinan, yaitu initiating structure yang berorientasi pada tugas dan consideration yang berorientasi pada manusia. Sedangkan kelompok Michigan memakai istilah job-centered dan employee-centered.
d. The Managerial Grid
Teori ini diperkenalkan oleh Robert R.Blake dan Jane Srygley Mouton dengan melakukan adaptasi dan pengembangan data penelitian kelompok Ohio dan Michigan.
Blake & Mouton mengembangkan matriks yang memfokuskan pada penggambaran lima gaya kepemimpinan sesuai denan lokasinya.
Dari teori-teori diatas dapatlah disimpulkan bahwa behavioral theory memiliki karakteristik antara lain:
- Kepemimpinan memiliki paling tidak dua dimensi yang lebih kompleks dibanding teori pendahulunya yaitu genetik dan trait.
- Gaya kepemimpinan lebih fleksibel; pemimpin dapat mengganti atau memodifikasi orientasi tugas atau pada manusianya sesuai kebutuhan.
- Gaya kepemimpinan tidak gifted tetapi dapat dipelajari
- Tidak ada satupun gaya yang paling benar, efektivitas kepemimpinan tergantung pada kebutuhan dan situasi
Situational Leadership
Pengembangan teori ini merupakan penyempurnaan dari kelemahan-kelemahan teori yang ada sebelumnya. Dasarnya adalah teori contingensi dimana pemimpin efektif akan melakukan diagnose situasi, memilih gaya kepemimpinan yang efektif dan menerapkan secara tepat.
Empat dimensi situasi secara dinamis akan memberikan pengaruh terhadap kepemimpinan seseorang.
- Kemampuan manajerial : kemampuan ini meliputi kemampuan sosial, pengalaman, motivasi dan penelitian terhadap reward yang disediakan oleh perusahaan.
- Karakteristik pekerjaan : tugas yang penuh tantangan akan membuat seseorang lebih bersemangat, tingkat kerjasama kelompok berpengaruh efektivitas pemimpinnya.
- Karakteristik organisasi : budaya organisasi, kebijakan, birokrasi merupakan faktor yang berpengaruh pada efektivitas pemimpinnya.
- Karakteristik pekerja : kepribadian, kebutuhan, ketrampilan, pengalaman bawahan akan berpengaruh pada gaya memimpinnya.
a. Fiedler Contingency model
Model ini menyatakan bahwa gaya kepemimpinan yang paling efektif tergantung pada situasi yang dihadapi dan perubahan gaya bukan merupakan suatu hal yang sulit.
Fiedler memperkenalkan tiga variabel yaitu:
-> Task structure : keadaan tugas yang dihadapi apakah structured task atau unstructured task
-> Leader-member relationship : hubungan antara pimpinan dengan bawahan, apakah kuat (saling percaya, saling menghargai) atau lemah.
-> Position power : ukuran aktual seorang pemimpin, ada beberapa power yaitu:
-> Legitimate power : adanya kekuatan legal pemimpin
-> Reward power : kekuatan yang berasal imbalan yang diberikan pimpinan
-> Coercive power : kekuatan pemimpin dalam memberikan ancaman
-> Expert power : kekuatan yang muncul karena keahlian pemimpinnya
-> Referent power : kekuatan yang muncul karena bawahan menyukai pemimpinnya
-> Information power : pemimpin mempunyai informasi yang lebih dari bawahannya.
b. Model kepemimpinan situasional 'Life Cycle'
Harsey & Blanchard mengembangkan model kepemimpinan situasional efektif dengan memadukan tingkat kematangan anak buah dengan pola perilaku yang dimiliki pimpinannya.
Ada 4 tingkat kematangan bawahan, yaitu:
- M 1 : bawahan tidak mampu dan tidak mau atau tidak ada keyakinan
- M 2 : bawahan tidak mampu tetapi memiliki kemauan dan keyakinan bahwa ia bisa
- M 3 : bawahan mampu tetapi tidak mempunyai kemauan dan tidak yakin
- M 4 : bawahan mampu dan memiliki kemauan dan keyakinan untuk menyelesaikan tugas.
Ada 4 gaya yang efektif untuk diterapkan yaitu:
- Gaya 1 : telling, pemimpin memberi instruksi dan mengawasi pelaksanaan tugas dan kinerja anak buahnya.
- Gaya 2 : selling, pemimpin menjelaskan keputusannya dan membuka kesempatan untuk bertanya bila kurang jelas.
- Gaya 3 : participating, pemimpin memberikan kesempatan untuk menyampaikan ide-ide sebagai dasar pengambilan keputusan.
- Gaya 4 : delegating, pemimpin melimpahkan keputusan dan pelaksanaan tugas kepada bawahannya.
Transformational Leadership
Robert house menyampaikan teorinya bahwa kepemimpinan yang efektif menggunakan dominasi, memiliki keyakinan diri, mempengaruhi dan menampilkan moralitas tinggi untuk meningkatkan karismatiknya. Dengan kharismanya pemimpin transformational akan menantang bawahannya untuk melahirkan karya istimewa.
Langkah yang dilaksanakan pemimpin ini biasanya membicarakan dengan pengikutnya bagaimana pentingnya kinerja mereka, bagaimana bangga dan yakinnya mereka sebagai anggota kelompok, bagaimana istimewanya kelompok yang akan menghasilkan karya luar biasa.
Beberapa contoh pemimpin transformational Lee Lacoca, Jack Welch

Kepemimpinan Kristen
Maka datanglah ibu anak-anak Zebedeus serta anak-anaknya itu kepada Yesus, lalu
sujud di hadapan-Nya untuk meminta sesuatu kepada-Nya. Kata Yesus: "Apa yang
kaukehendaki?" Jawabnya: "Berilah perintah, supaya kedua anakku ini boleh duduk
kelak di dalam Kerajaan-Mu, yang seorang di sebelah kanan-Mu dan yang seorang
lagi di sebelah kiri-Mu." Tetapi Yesus menjawab, kata-Nya: "Kamu tidak tahu, apa
yang kamu minta. Dapatkah kamu meminum cawan, yang harus Kuminum?" Kata
mereka kepada-Nya: "Kami dapat." Yesus berkata kepada mereka: "Cawan-Ku
memang akan kamu minum, tetapi hal duduk di sebelah kanan-Ku atau di sebelah
kiri-Ku, Aku tidak berhak memberikannya. Itu akan diberikan kepada orang-orang
bagi siapa Bapa-Ku telah menyediakannya."
Mendengar itu marahlah kesepuluh murid yang lain kepada kedua saudara itu. Tetapi
Yesus memanggil mereka lalu berkata: "Kamu tahu, bahwa pemerintah-pemerintah
bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi dan pembesar-pembesar
menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka.
Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara
kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi
terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu; sama seperti Anak
Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk
memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang."
Matius 20:25-28

Kita tidak usah memperdebatkan, apakah keinginan duduk di sebelah kanan dan kiri Tuhan Yesus di kerajaan Allah, adalah keinginan Ibu Yohanes dan Yakobus atau itu adalah keinginan anak-anaknya sendiri. Namun yang pasti ada ambisi di antara mereka, untuk mendapatkan kedudukan/derajat yang paling tinggi, di saat kerajaan Allah dinyatakan. Mereka rupanya tidak mau dijadikan pegawai kerajaan Allah, mereka hanya ingin kedudukan yang terhormat. Karena motivasi utamanya adalah ambisi, maka mereka berusaha dengan segala cara untuk memperoleh kedudukan itu. Dengan gaya “Bad Guys and Good Guys” jaman sekarang, Ibunya dijadikan “Bad Guys” dan anak-anaknya dijadikan “Good Guys”. Hal ini menjadi wajar terjadi, karena motivasi utama mereka adalah ambisi. Ambisi ini timbul, karena ada benih kesombongan, dan ini adalah benih dosa.
Lalu apa tanggapan Yesus ? Karena Dia adalah Tuhan, Yesus sangat tahu isi hati manusia. Dia tidak memberikan jawaban tentang permintaan tersebut kepada Ibu Yohanes dan Yakobus, Dia malah memberikan jawaban kepada Yohanes dan Yakobus. Dan lebih hebatnya lagi, jawaban Yesus diberikan dengan bahasa yang lembut dan sejuk. Tuhan Yesus ingin memperbaiki kesalahan ambisi yang dimiliki oleh murid-Nya dengan komunikasi yang lembut. Lalu Tuhan Yesus memulainya dengan mengalihkan pandangan yang salah yang dimiliki oleh murid-murid-Nya tentang kerajaan Allah. Kerajaan Allah bukanlah sistem kekuasaan seperti di dunia ini. Singkatnya Yesus memberikan pemimpin yang diharapkan bukanlah seperti yang ada sekarang di dunia, namun pemimpin yang nantinya berlaku di kerajaan Allah, dan yang diri-Nya sendiri telah lakukan. Yakni : pemimpin yang melayani. Semakin melayani, dia akan menjadi pemimpin, begitu sebalinya.

Siapa pemimpin Kristen dan apa ciri-cirinya ?
Berikut ini petikan kalimat tentang kepemimpinan Kristen oleh Dr. Yakob Tamatala. Sejauh ini kita belum banyak berbicara mengenai kepemimpinan Kristen, selain mengemukakan bahwa hal itu berbeda secara mendasar dalam motivasinya. Akan tetapi, selama ini kami memperhatikan bahwa organisasi-organisasi yang memberi prioritas yang tinggi kepada pentingnya individu, kepada standar perilaku pribadi yang tinggi, kepada komunikasi yang baik, baik ke atas maupun ke bawah, organisasi-organisasi yang mempunyai keyakinan yang benar, bisa melampaui yang lainnya. Kami juga memperhatikan bahwa terlalu sering organisasi-organisasi Kristen mempunyai standar individu dan prestasi bersama yang lebih rendah daripada organisasi-organisasi sekuler.
Apakah kepemimpinan Kristen itu? Kepemimpinan Kristen ialah kepemimpinan yang dimotivasi oleh kasih dan disediakan khusus untuk melayani. Itu merupakan kepemimpinan yang telah diserahkan kepada kekuasaan Kristus dan teladan-Nya. Para pemimpin Kristen yang terbaik memperlihatkan sifat-sifat yang penuh dengan dedikasi tanpa pamrih, keberanian, ketegasan, belas kasihan, dan kepandaian persuasif yang menjadi ciri pemimpin agung.
Pemimpin Kristen sejati telah menemukan bahwa kepemimpinan dimulai dari handuk dan baskom - dalam peran seorang pelayan:
1.Dedikasi tanpa pamrih dimungkinkan karena orang Kristen tahu bahwa Allah mempunyai strategi besar di mana ia menjadi bagiannya.
2.Keberanian diperbesar oleh kekuatan yang datang dari Roh yang berdiam di dalam hati kita.
3.Ketegasan datang karena mengetahui bahwa tanggung jawab akhir tidak terletak pada dirinya.
4.Kepandaian persuasif didasarkan pada kesetiaan kepada satu alasan yang melampaui segala alasan lainnya.
Kerendahan hati berasal dari kesadaran bahwa Allahlah yang melakukan pekerjaan tersebut.

Gaya kepemimpinan Yesus
Sebelum kita membahas gaya kepemimpinan Yesus, pertanyaan yang harus kita jawab adalah : Apakah Yesus merupakan model kepemimpinan yang relevan buat kita sekarang ?”
Sikap skeptis ini bukan saja masalah bisakah menerima teladan Yesus sebagai model kepemimpinan yang sejati. Namun lebih dari itu, sikap ini disebabkan penolakan Yesus sebagai yang terbaik, yakni manusia yang sempurna dan Allah yang menjelma melalui Yesus.
Cerita ini, adalah contoh sikap skeptis murid-murid-Nya (waktu kejadian ini belum menjadi murid-murid Yesus) :
Pada suatu kali Yesus berdiri di pantai danau Genesaret, sedang orang banyak
mengerumuni Dia hendak mendengarkan firman Allah.
Ia melihat dua perahu di tepi pantai. Nelayan-nelayannya telah turun dan sedang
membasuh jalanya.
Ia naik ke dalam salah satu perahu itu, yaitu perahu Simon, dan menyuruh dia
supaya menolakkan perahunya sedikit jauh dari pantai. Lalu Ia duduk dan
mengajar orang banyak dari atas perahu.
Setelah selesai berbicara, Ia berkata kepada Simon: "Bertolaklah ke tempat yang
dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan."
Simon menjawab: "Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami
tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan
menebarkan jala juga."
Dan setelah mereka melakukannya, mereka menangkap sejumlah besar ikan,
sehingga jala mereka mulai koyak.
Lalu mereka memberi isyarat kepada teman-temannya di perahu yang lain supaya
mereka datang membantunya. Dan mereka itu datang, lalu mereka bersama-sama
mengisi kedua perahu itu dengan ikan hingga hampir tenggelam.
Ketika Simon Petrus melihat hal itu iapun tersungkur di depan Yesus dan berkata:
"Tuhan, pergilah dari padaku, karena aku ini seorang berdosa."
Sebab ia dan semua orang yang bersama-sama dengan dia takjub oleh karena
banyaknya ikan yang mereka tangkap;demikian juga Yakobus dan Yohanes, anak-
anak Zebedeus, yang menjadi teman Simon. Kata Yesus kepada Simon: "Jangan
takut, mulai dari sekarang engkau akan menjala manusia."
Dan sesudah mereka menghela perahu-perahunya ke darat, merekapun
meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikut Yesus.
Lukas 5:1-11
Ada begitu banyak alasan Petrus saat itu, dan tentu alasan yang masuk akal, untuk tidak mengikuti kepemimpinan Yesus. Petrus adalah seorang nelayan, dan dia adalah nelayan yang prof/ahli, bagaimana dengan Yesus ? Bukankah sikap skeptis ini juga ada di pikiran beberapa orang. Saya lebih bisa, saya lebih tahu, saya lebih dan lebih. Namun seharusnya pembuktian yang diberikan Yesus kepada Petrus, sudah sangat cukup menepis sikap skeptis kita. Karena dia adalah Allah dan Manusia yang sempurna. Tidak ada contoh lain yang terbaik, yang mana kita bisa tirukan selain gaya kepemimpinan Yesus, saat dulu, sekarang, dan selamanya.
Ken Blanchard dan Phil Hodges dalam bukunya “Lead Like Jesus” menyatakan, kalau kita ingin memimpin seperti Yesus, kita harus menjawab tiga pertanyaan penting di bawah ini :
1.Apakah saya seorang pemimpin ?
2.Apakah saya bersedia mengikuti Yesus sebagai model peran kepemimpinan saya ?
3.Bagaimana saya memimpin seperti Yesus ?
Memimpin seperti Yesus tidak lebih merupakan suatu komitmen untuk memimpin dengan cara yang berbeda. Memimpin seperti Yesus merupakan suatu siklus transformasi yang mulai dengan kepemimpinan personal (diri sendiri), dan kemudian bergerak memimpin orang lain one on one, kemudian memimpin satu tim atau kelompok, dan akhirnya, memimpin satu organisasi atau masyarakat.

Memimpin seperti Yesus menuntut penyatuan empat area kepemimpinan : (1) Hati, (2) Kepala, (3) Tangan, dan (4) kebiasaan.
Permasalahan awal seorang pemimpin adalah urusan spiritual yang ada di dalam hatinya. Sederhananya, apa yang menjadi motivasi dalam tindakan kepemimpinan kita. “Apakah kita seorang pemimpin pelayan atau pemimpin yang melayani diri sendiri ?” Ketika Yesus menggunakan handuk dan baskom untuk mencuci kaki murid-murid-Nya, Dia memberikan model kepemimpinan yang utama, yakni pemimpin yang melayani. Ada beberapa ciri-ciri pemimpin yang melayani :
1.Kepemimpinan pelayan pertama-tama mencari kerajaan Allah
2.Kepemimpinan pelayan menghormati Allah dan mengikuti perintah-Nya
3.Kepemimpinan pelayan sebagai pelayanan dengan melakukannya dengan kasih Yesus
4.Kepemimpinan pelayan menunjukkan model Yesus kepada orang lain
Ken Jennings dan John Stahl-Wert memberikan 5 tindakan pemimpin pelayan, yang mentransformasi tim, bisnis dan komunitas. Lihat gambar berikut :

Tindakan pertama : Membalikkan Piramid
Kita bisa menjadi pertama, dengan syarat mengedepankan orang lain terlebih dahulu. Seorang pemimpin yang dapat mengendalikan ego pribadinya, sekaligus membangun keyakinan serta harga diri orang lain, membuat situasi menjadi mungkin bagi tim untuk bekerja sama.
Tindakan kedua : Mendirikan Tonggak
Untuk bisa melayani banyak orang, kita harus terlebih dahulu melayani sedikit orang. Pencapaian kedalaman yang paling baik adalah tantangan untuk mencapai ke atas.
Tindakan ketiga : Membuka Jalan
Pemimpin yang melayani membangun organisasi pengajaran untuk menciptakan keunggulan di setiap tataran. Pemimpin yang melayani menyingkirkan hambatan agar orang lain bisa mencapai sukses.
Tindakan keempat : Membangun Kekuatan
Pemimpin yang melayani harus bekerja untuk menciptakan tim, yang membuat setiap orang hidup dengan kekuatan mereka dari hari ke hari.
Tindakan kelima : Melaju ke Arah Tujuan yang Besar
Untuk melakukan kebaikan yang paling mungkin, perjuangkan hal-hal yang tak mungkin. Pertahankan minat sendiri yang paling hebat dalam mencapai hal-hal di luar minat sendiri.
Melalui kepemimpinan yang melayani inilah Yesus mengajar kepemimpinan bagi dunia, ini adalah termasuk area kepala, menurut Ken Blanchard dan Phil Hodges.
Tangan berbicara tentang penetapan tujuan yang jelas dan pengukuran kinerja yang jelas pula, diikuti dengan memuji kemajuan dan mengarahkan kembali perilaku yang tidak tepat.
Kebiasaan kita dalah cara bagaimana kita memperbaharui komitmen sebagai seorang pemimpin untuk melayani, bukan dilayani. Komitmen untuk akan terus bersinar melalui pola hidup doa, mencari kehendak Tuhan melalui firman-Nya dan terlibat dalam komunitas Tuhan.

Kepemimpinan Kristen yang Mentransformasi
Cara lain memahami mengenai jenis pemimpin adalah dengan membandingkan pemimpin transformatif dan pemimpin yang transaksional. Seorang pemimpin, apalagi yang dikenal dengan pemimpin formal sebagai lawan dari pemimpin informal dapat terjebak untuk menjadi pemimpin transaksional. Pemimpin transaksional memperlakukan orang-orang yang dipimpinnya, atasannya, serta dirinya sebagai pemain-pemain dalam suatu proses perdagangan. Keputusan yang diambilnya merupakan keputusan yang menguntungkan baginya dalam hubungan dirinya dengan berbagai pihak. Masalah benar atau salahnya keputusan tadi tidak jadi perhatian utamanya, namun masalah untung atau ruginya terutama bagi kepentingannya sering menjadi dasar pertimbangannya. Kepemimpinan serupa ini tidak membuat organisasinya atau pihak-pihak yang terkait dengannya berkembang apalagi orang-orang yang dipimpinnya. Kecenderungannya ialah memanfaatkan berbagai pihak bagi dirinya.
Lawan dari kepemimpinan transaksional adalah kepemimpinan transformasional. Esensi kepemimpinan serupa ini adalah menghasilkan perubahan dimana dirinya dan mereka yang terkait dengannya sama-sama mengalami perubahan ke arah yang lebih luas, tinggi, dan mendalam. Kata kunci dari segenap keputusan adalah berapa jauh sebanyak mungkin pihak mengalami pertumbuhan.
Di dalam suatu organisasi yang bersifat nir laba, semestinya kepemimpinan yang ditumbuhkan adalah kepemimpinan transformatif. Namun, karena seringnya terjadi pemimpin dipilih bukan berdasarkan track-record atau riwayat kinerjanya, melainkan berdasarkan konsensus sosial, maka pemimpin-pemimpin formal seringkali bukan merupakan orang yang bermodalkan karakter, kompetensi dan komitmen yang tinggi. Akibatnya, maka mereka berusaha mati-matian untuk bertahan pada kedudukan mereka. Apalagi bila kedudukan tadi tidak memiliki alur karir yang melanjutkannya.

Transaksional Transformational

Bekerja dalam situasi Mengubah situasi
Menerima keterbatasan Mengubah apa yang biasa dilakukan
Menerima peraturan dan nilai yang Bicara tentang tujuan yang luhur ada
Timbal balik dan tawar menawar Memiliki acuan nilai kebebasan,
keadilan dan kesamaan

Pemimpin yang transformational membuat bawahan melihat bahwa tujuan yang mau dicapai lebih dari sekedar kepentingan pribadinya.
Penutup
Kepemimpinan utamanya adalah mengenai bagaimana kita mempengaruhi orang lain. Yesus adalah contoh manusia yang sempurna, yang mempengaruhi dunia, dimulai dari kedua belas murid-murid-Nya. Kepemimpinan pelayan adalah hadiah atau contoh kepemimpinan bagi dunia.
Kita bisa mentransformasi sekeliling kita tergantung komitmen kita untuk mengikuti gaya kepemimpinan Yesus dan kemauan yang kuat untuk melakukan perbedaan yang baik bagi komunitas kita.

DAFTAR PUSTAKA
http://www.bealeader.net/leadership-definitions/

Kepemimpinan Kristen, Dr. Yakob Tomatala

Buku Kepemimpinan Karya TIM FISIP
http://aparaturnegara.bappenas.go.id/data/Kajian/Kajian-2003/Dimensi%
Bible Commentaries, Matthew Henry
Materi CLN, oleh Robby Chandra
Lead Like Jesus, Ken Blanchard & Phil Hodges
The Serving Leader, Ken Jennings & John Stahl-Wert

Sabtu, 11 Oktober 2008

Kiat Entrepreneur Sejati : MENAKLUKKAN KRISIS

Secara nyata dampak dari perubahan ekonomi makro, seperti : melambatnya pertumbuhan ekonomi nasional, suku bunga yang terus menaik, kurs valuta asing yang bergejolak, menurunnya nominal ekspor, harga minyak dunia yang tidak stabil, sangat memukul entrepreneur.
Dengan kondisi daya beli pasar yang terus melemah memaksa entrepreneur untuk memutar otak, mempertahankan porsi penjualan yang selama ini dinikmati. Belum lagi akibat menjamurnya pesaing sejenis tanpa diimbangi dengan pasar yang melebar, semakin menjepit entrepreneur untuk bergerak.
Namun bukanlah entrepreneur sejati, apabila “krisis” ini menghentikan langkah seorang entrepreneur agar bisnisnya tetap eksis bahkan berkembang. Siapa bilang saat “krisis”, bisnis kita tidak bisa berkembang. Telah terbukti dengan krisis yang kita alami di tahun 1998, banyak orang kaya baru bermunculan. Takkala beberapa perusahaan besar di negera Paman Sam pailit, saya percaya tidak semua perusahaan di Amerika saat ini ikut mengalami “krisis”. Jadi “krisis” bukanlah senjata yang mematikan kita, namun bisa dijadikan batu loncatan bagi entrepreneur sejati, tentunya mereka adalah orang-orang yang jeli dan yang mau berubah. Seperti yang sudah dibuktikan oleh Ir. Ciputra saat melewati kepungan masalah yang sangat bahaya bagi bisnis perumahannya, kenaikan bunga KPR yang tidak masuk akal serta bahan bangunan yang begitu cepat naik hingga lebih dari 50%. Namun dengan kejelian dan perubahan yang dia lakukan melalui PT. Ciputra Development, berkembang dan membuahkan hasil. Dia berhasil melewati krisis dan berjaya hingga sekarang.
Ada empat kiat, yang harus dilakukan oleh entrepreneur sejati saat “krisis” menghadang bisnisnya.

KIAT No. 1
Mau tidak mau, langkah awal adalah efesiensi cost. Percayalah, apapun bisnis Anda, dapat dipastikan terjadi inefesiensi di sana sini. Mengapa bisa terjadi demikian ? Hal ini dikarenakan saat penjualan kita masih untung dan bisa menutupi cost yang ada, secara manusiawi kita cenderung tidak cerewet atas cost yang sia-sia sekalipun. Saat “krisis” datang, siap-siap pendapatan dari penjualan menurun, dan jangan harap untuk beberapa waktu terjadi peningkatan penjualan. Salah satu cara untuk mendapatkan laba hanyalah memperkecil biaya yang ada saat ini. Biaya-biaya apa saja yang harus dievaluasi ? Analisalah jumlah karyawan dan modal kerja yang ada gunakan.

KIAT No. 2
Lalu lakukan diferensiasi bisnis yang Anda punyai sekarang. Bisnis Anda akan mati jika bisnis Anda tidak ada keunikan, apalagi jika bisnis Anda tidak ada manfaatnya di mata pelanggan. Anda harus segera memperbanyak pilar-pilar keunggulan bersaing (competitive advantages), seperti : mengatur strategi harga jual, memperbaiki kualitas dan fungsi produk, mengefektifkan jalur distribusi, packaging yang menarik, meningkatkan kualitas SDM, dll. Juga lihatlah peluang bisnis lain, yang bisa meningkatkan benefit dari bisnis Anda sebelumnya.
Hindari bisnis baru yang tidak memberikan kontribusi apa-apa dari bisnis Anda saat ini, karena tindakan ini tidak bijaksana, memulai bisnis di saat “krisis”.
KIAT No. 3
Kesalahan orang pada umumnya, meniadakan promosi di saat “krisis”. Dipikir promosi adalah “cost” yang harus diefisienkan. Anda salah besar, promosi bukanlah “cost”, tapi termasuk investasi. Karena uang yang Anda keluarkan buat promosi, tidak akan hilang begitu saja. Uang itu akan kembali mendekati perusahaan Anda, melalui kembalinya pelanggan yang lama dan datangnya pelanggan baru. Namun yang perlu Anda teliti ulang adalah bentuk promosi yang Anda lakukan. Saat “krisis”, buatlah promosi yang memberikan benefit “langsung” kepada pelanggan, baik yang lama dan yang baru. Di saat krisis pastilah jumlah pelanggan potensial di bisnis Anda akan berkurang, dan tentu saja mereka akan memilih perusahaan mana yang bisa memberikan benefit, lebih banyak pelanggan mengeluarkan uang dengan extra prudent (hati-hati).
TIPS : Beriklan dan Promosi
1. Berhati-hatilah beriklan, jangan hanya memberikan informasi tentang bisnis Anda, buatlah iklan yang bisa membuat orang ingin mencoba produk Anda.
2. Ciptakan iklan yang unik, sehingga tidak teredam dengan hiruk pikuk iklan-iklan yang berseliweran di mana-mana.
3. Dan buatlah promosi yang tidak setengah hati (tidak tanggung-tanggung), karena uang yang Anda keluarkan akan terbuang sia-sia.
KIAT NO. 4
Terakhir, bisnis yang bertahan dari “krisis” adalah bisnis yang bisa mempertahankan pelanggannya. Saat tidak krisis, ibarat kita menjala ikan di kolam ikan air tawar. Dengan sembarangan membuang jalapun, kita pasti bisa banyak mendapat ikan. Berbeda dengan saat krisis, seperti kita menjala ikan di lautan nan luas. Tanpa strategi dan perencanaan yang tepat, jangan harap bisa mendapatkan ikan yang banyak. Hindari berbisnis tanpa punya sasaran pelanggan mana yang ingin Anda raih. Oleh karena itu saat krisis Anda tidak boleh hanya duduk menunggu, hingga pelanggan Anda datang kepada Anda. Kemaslah suatu sentuhan transaksi yang memiliki benefit bagi pelanggan Anda. Buatlah pelanggan Anda menjadi pelanggan yang loyal. Merekalah yang menjadi dewa penolong bisnis Anda melewati masa “krisis”.
TIPS : Mempertahankan Pelanggan di Saat Krisis
1. Sentuhan transaksi yang berkesan, hal ini dimulai dari diri Anda.
2. Nomor satukan pelanggan, dan nomor duakan Anda.
3. Jual produk yang menguntungkan pelanggan.
4. Prioritaskan pelanggan lama.
5. Membangun komunikasi yang berlanjut dengan pelanggan.
6. Ikatlah pelanggan dengan program penjualan yang membuat mereka repeat melakukan order.

- Konosuke Matsushita -
"Bermacam-macam peluang muncul pada saat Anda sedang krisis… saat dalam kondisi bagus itu memang bagus tapi saat dilanda krisis adalah lebih bagus lagi".